Pakai 'Bahasa Walikan' Cegah Konflik, Strategi Unik Polresta Malang Kota Jaga Keamanan
📅 Minggu, 27 Sep 2026, 16:54 WIB | Oleh: AlfredMALANG - Kepolisian Resor Kota (Polresta) Malang Kota memperkuat kontrol sosial pencegahan konflik sosial dengan mengedepankan unsur budaya lokal khas Malangan, seperti osob kiwilan atau bahasa kebalikan, Minggu (27/9).
Kepala Polresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi Sukarno seusai acara Temu Budaya Malang Hebak di Sanggar Sasana Krida Budaya, Kota Malang, Minggu, mengatakan, salah satu budaya lokal di dalam konteks penguatan kontrol sosial adalah osob kiwilan atau bahasa kebalikan yang sudah menjadi bagian ciri komunikasi dan simbol keakraban masyarakat setempat.
"Pada intinya ini adalah gerakan untuk semua orang yang ada di Malang, bagi saya apapun yang terjadi mengenai konflik kemungkinan besar kontrol sosial tidak berjalan baik," kata Danang, Minggu (27/9.
Terjalinnya keakraban dari pola komunikasi itu, menurut dia akan lebih menggugah partisipasi seluruh masyarakat setempat untuk menjaga kondusivitas, dari mulai lingkungan tempat tinggal masing-masing sampai skala kota dari aktivitas menyalahi nilai dan norma berlaku yang berpotensi memicu konflik.
Dengan terjaganya kondusivitas di seluruh wilayah, maka akan berdampak positif pada berbagai sisi kehidupan di Kota Malang.
Terlebih, kata dia, Polresta Malang Kota hanya menjadi bagian kecil dari kontrol sosial, sehingga butuh peran dan keterlibatan dari banyak pihak, seperti kampus, sekolah, tokoh agama, hingga pemerintah kota dalam memastikan terjaminnya keamanan dan kenyamanan masyarakat.
"Kota Malang ini kan juga menjadi daerah wisata, kemudian pendidikan sehingga itu semua bisa berjalan dengan baik," ujar dia.
Temu Budaya Malang Hebak merupakan agenda hasil inisiasi Polresta Malang Kota dalam rangka menjaga dan melestarikan nilai budaya lokal yang telah menjadi identitas wilayah Malang, khususnya Kota Malang.
Sementara itu, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, mengatakan langkah dari kepolisian setempat menjadi cermin keterbukaan dan penerimaan terhadap setiap masyarakat yang datang ke Kota Malang dengan berbagai tujuan positif, seperti menempuh pendidikan, bekerja, dan berwisata.
"Kita punya kearifan lokal yang harus dipertahankan karena kalau bukan kita sendiri, siapa lagi? Tentunya ini semua untuk Malang dan Malang untuk semua," ucapnya.
Wahyu menambahkan, budaya lokal lebih dihadirkan di dalam sistem kontrol sosial merupakan bagian dari partisipasi kepolisian merawat dan melestarikan kebudayaan.
"Ini sangat penting, di daerah lain tidak ada hanya ada di Malang," ujarnya.
Di tempat yang sama, Dekan FISIP Universitas Brawijaya Malang, Dr Imron Rozuli, menilai Malang Hebak atau Malang untuk semua perlu didorong menjadi gerakan masif kepada generasi muda agar tidak sampai kehilangan identitas.
"Bisa melalui skema pengajaran ataupun simbolistas bahasa di ruang publik," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!