Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Puluhan Ton Ikan Keramba Mati Diduga akibat Sungai Batanghari Tercemar Limab Beracun Merkuri

📅 Minggu, 09 Agu 2026, 15:46 WIB | Oleh:
Puluhan Ton Ikan Keramba Mati Diduga akibat Sungai Batanghari Tercemar Limab Beracun Merkuri Doc: ANTARA/Agus Suprayitno
Ket. Musa Yusuf, petani keramba Desa Sarang Burung, Kecamatan Jaluko, Jambi, membersihkan ikan mati dari dalam keramba apung miliknya yang berada di tepi Sungai Batanghari, Minggu (9/8).

Muaro Jam -- Puluhan ton ikan milik petani keramba di lima desa wilayah Kecamatan Jambi Luar Kota (Jaluko), Kabupaten Muaro, Jambi, mati karena diduga akibat pencemaran air Sungai Batanghari.

"Jumlahnya banyak, paling hanya 10 persen yang hidup dari total yang kita tabur, sisanya mati," kata petani keramba Musa Yusuf di Desa Sarang Burung, Kecamatan Jaluko, Jambi, Minggu.

Menurut dia, fenomena kematian ikan milik petani keramba semakin tinggi sejak tiga bulan terakhir, seiring semakin menyusutnya debit air Sungai Batanghari akibat musim kemarau.

Selain penurunan permukaan air sungai, kematian ini, menurutnya disebabkan pencemaran limbah beracun (merkuri) akibat aktivitas tambang di bagian hulu Batanghari yang semakin masif.

Untuk itu, Musa meminta pemerintah memikirkan persoalan tersebut agar petani ikan yang ada disepanjang aliran sungai tidak ikut merasakan dampak aktivitas pertambangan emas ilegal.

Ia merinci Kecamatan Jaluko merupakan salah satu pusat penghasil ikan air tawar di Provinsi Jambi.

Petani tambak di wilayah tersebut menyebar mulai dari Desa Sungai Duren, Sarang Burung, Mendalo Laut dan Pematang Jering, semuanya memanfaatkan aliran sungai untuk membudidayakan jenis ikan mas (Cyprinus carpio) dan nila (Oreochromis niloticus).

Akibat dampak pencemaran lingkungan itu, diperkirakan ikan yang mati jumlahnya mencapai puluhan ton dalam setiap bulan.

"Untuk Kecamatan Jaluko saja mungkin ada puluhan ton ikan mati setiap bulan, karena di daerah ini ada ribuan tambak. Bayangkan saja, dari delapan ribu ikan yang ditabur, mungkin hanya 800 sampai 900 ekor yang hidup, ini untuk satu petak. Kalau setiap petani punya 10 petak, tinggal kalikan saja," urainya.

Anggota DPRD Provinsi Jambi Ivan Wirata menilai bahwa pencemaran air Sungai Batanghari merupakan akumulasi persoalan dari hulu sampai hilir akibat persoalan aktivitas tambang ilegal, pembuangan limbah rumah tangga (sampah) dan industri, termasuk abrasi karena minimnya gerakan penghijauan.

Ia menambahkan berdasarkan laporan dari perusahaan air minum (PDAM), berdasarkan pengukuran tingkat kekeruhan (Nephelometric Turbidity Unit) atau NTU, kekeruhan air baku mencapai angka 1.400 NTU, melonjak hampir empat kali lipat dari batas normalnya yang berada di kisaran 250-300 NTU.

Menyikapi persoalan itu, Ivan meminta pemerintah segera mengambil langkah strategis penyelamatan lingkungan khususnya Sungai Batanghari dengan melibatkan lintas sektor.

Termasuk mendorong status Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari masuk menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN), supaya pemerintah pusat bisa ikut ambil bagian dalam upaya pelestarian.

"Ikan yang mati di keramba hanya contoh gejala di permukaan, masalah sebenarnya ada pada kerusakan ekosistem di bagian hulu yang harus dibenahi. Jika DAS Batanghari diselamatkan, sungai ini bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi investasi besar yang menopang pertumbuhan ekonomi Daerah," jelas dia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Logistik Hijau Dinilai Kunci Menangkan Persaingan Industri
    Preview komentar:
    Inisiatif mulia dari Kementerian Kehutanan terkait optimalisasi rute ...
  • ESDM: Efisiensi Energi Bisa Pangkas 37 Persen Emisi Sektor Energi, Industri Makin Untung
    Preview komentar:
    Langkah proaktif pemerintah melalui program percontohan SETI ini ...
  • Fenomena Langit Agustus 2026: Gerhana Matahari Total, Hujan Meteor, Blood Moon hingga 6 Planet Sejajar
    Preview komentar:
    Membaca rangkuman fenomena langit Agustus 2026 di artikel ...
Wisata
Bukan Bali, Simeulue Kini D...

29 Desa di Cilacap Alami Kekeringan

51 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Daerah
29 Desa di Cilacap Alami Ke...
Luar Negeri
Rwanda Kebut Percepatan Per...
Nasional
Menteri UMKM Dorong Perluas...
Nasional
Menteri Ekraf Dukung Pengem...
Jorge Messi Meninggal di Usia 68 Tahun , Sosok Penting di Balik Kesuksesan Lionel

Jorge Messi Meninggal di Usia 68 Tahun , Sosok Penting di Balik Kesuksesan Lionel

09 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.