Kementrans Bongkar 246 Program TEP 2026, Evaluasi Digelar Agar Target Tak Meleset
📅 Jumat, 25 Sep 2026, 19:15 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Kementerian Transmigrasi (Kementrans) mengevaluasi 246 program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 untuk memastikan pelaksanaannya di kawasan transmigrasi tetap sesuai dengan keluaran dan target yaitu transformasi transmigrasi.
Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi mengatakan evaluasi diperlukan karena pelaksanaan program di lapangan menghadapi beragam dinamika, antara lain aspirasi masyarakat serta kondisi sosial, iklim, topografi, dan faktor lainnya.
“Program-program ini perlu ditelaah secara holistik karena menyangkut banyak aspek. Dinamika program bisa terjadi karena alasan kondisi sosial dan faktor lain sehingga perlu kajian lebih lanjut,” kata Viva dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Jumat (25/9).
Hal tersebut diungkapkan Wamentrans saat kegiatan Monitoring dan Evaluasi TEP 2026 pada Rabu (23/9).
Menurut dia, berbagai dinamika tersebut perlu dibahas, didiskusikan, dan ditelaah dalam proses pemantauan dan evaluasi agar penyesuaian program di lapangan tidak menggeser keluaran maupun target yang telah disepakati.
Viva menegaskan hasil evaluasi tersebut tetap harus bermuara pada transformasi transmigrasi sehingga program dapat menyesuaikan kondisi dan kebutuhan di lapangan tanpa kehilangan tujuan utamanya.
“Hasil dari kegiatan ini nantinya akan menjadi keputusan bersama,” ujarnya.
Kegiatan Monitoring dan Evaluasi TEP 2026 diikuti 150 peserta, termasuk ketua TEP dan penelaah proposal dari 10 perguruan tinggi negeri yang menjadi mitra Kementrans dalam pelaksanaan program tersebut.
TEP 2026 melibatkan 1.476 peserta yang terbagi dalam 246 tim untuk bertugas di 53 kawasan transmigrasi. Peserta terdiri atas guru besar, doktor, magister, dan sarjana.
Sepuluh perguruan tinggi mitra tersebut yakni Universitas Indonesia, IPB University, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.
Para peserta TEP bertugas menghasilkan model, prototipe, desain, dan pendampingan yang dapat diterapkan di kawasan transmigrasi, sekaligus menyusun rekomendasi kebijakan berdasarkan kondisi di lapangan.
Viva berharap implementasi program oleh sivitas akademika dapat mengembangkan kawasan transmigrasi melalui berbagai pendekatan, termasuk industrialisasi, peningkatan pendapatan masyarakat, serta pembentukan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.
“Dari kegiatan ini saya harap ada pandangan baru,” katanya.
Ia juga mengharapkan TEP dapat berjalan secara berkesinambungan untuk memperkuat kolaborasi dan alih pengetahuan serta menghadirkan sumber daya manusia dengan ilmu dan inovasi yang dapat mempercepat transformasi transmigrasi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!