Deflasi Juli Jadi Alarm Sekaligus Peluang bagi Stabilitas Ekonomi
📅 Senin, 03 Agu 2026, 21:25 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Deflasi sebesar 0,14 persen pada Juli 2026 mengindikasikan adanya pelemahan tekanan harga di tingkat konsumen, yang dapat dipengaruhi oleh meningkatnya pasokan sejumlah komoditas pangan, normalisasi permintaan pascamusim tertentu, maupun penurunan harga komponen bergejolak (volatile food).
Meski memberikan ruang bagi daya beli masyarakat melalui harga yang lebih rendah, deflasi juga perlu dicermati jika berlangsung berulang karena dapat mencerminkan perlambatan permintaan domestik.
Karena itu, keberlanjutan konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekonomi menjadi faktor penting untuk memastikan deflasi bersifat sementara dan tidak berkembang menjadi sinyal pelemahan ekonomi yang lebih luas.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono di Jakarta, Senin (3/8), mengatakan terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,89 pada Juni 2026 menjadi 111,73 pada Juli 2026.
“Adapun kelompok pengeluaran, pendorong deflasi bulanan ini terutama pada makanan, minuman dan tembakau dengan deflasi sebesar 0,89 persen dan andil deflasi sebesar 0,26 persen,” kata Ateng.
Sebaiknya Anda baca juga:
Komoditas penyumbang utama deflasi dari kelompok tersebut meliputi bawang merah, cabai merah dan cabai rawit, telur ayam ras, tomat, dan jeruk.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami deflasi sebesar 0,89 persen, di mana penurunan dipengaruhi harga emas perhiasan yang turun 3,58 persen dan memberikan andil deflasi 0,08 persen.
Di sisi lain, kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 0,52 persen dengan andil 0,06 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bensin menjadi penyumbang terbesar meskipun harga bahan bakar minyak nonsubsidi turun pada awal Juli. Kondisi ini dipengaruhi perbandingan rata-rata harga dengan Juni, ketika harga Pertamax pada awal bulan masih berada di level yang lebih rendah.
Kelompok pendidikan juga mengalami inflasi sebesar 0,55 persen, terutama akibat kenaikan biaya sekolah dasar (SD), taman kanak-kanak (TK), dan bimbingan belajar pada awal tahun ajaran baru.
Sedangkan inflasi pada biaya sekolah menengah pertama (SMP), biaya kuliah akademi atau pekerjaan tinggi, biaya sekolah menengah atas (SMA), taman pendidikan Alquran, kelompok bermain pendidikan anak usia dini (PAUD), kursus bahasa asing, dan kursus matematika tidak memberikan andil yang signifikan terhadap inflasi umum.
Berdasarkan komponen, harga bergejolak (volatile food) mengalami deflasi sebesar 1,68 persen, yang didorong oleh harga bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, tomat, jeruk, semangka, dan sawi hijau.
Komponen inti (core inflation) dan harga diatur pemerintah (administered price) masing-masing mengalami inflasi sebesar 0,14 persen dan 0,25 persen.
Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen inti, yaitu biaya SD, sepeda motor, pelumas atau oli mesin, biaya TK, telepon seluler, dan biaya bimbingan belajar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!