Indonesia Jangan Hanya Jadi Perakit Mobil, Industri Komponen Harus Diperkuat
📅 Minggu, 02 Agu 2026, 06:00 WIB | Oleh: Tim PenulisMenurutnya, pengalaman selama ini menunjukkan investasi asing tidak otomatis diikuti transfer pengetahuan maupun peningkatan kapasitas industri nasional.
"Pengalaman menunjukkan bahwa alih teknologi tidak terjadi secara otomatis hanya karena investasi masuk," ujarnya.
Ia mengusulkan agar pemerintah mewajibkan investor membangun pusat riset di Indonesia, meningkatkan keterlibatan insinyur lokal dalam kegiatan desain dan rekayasa, mengembangkan pemasok domestik dengan target yang terukur, serta menyediakan program pelatihan tenaga kerja yang dibiayai investor.
"Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat karena didukung pasar domestik yang besar dan sumber daya mineral strategis. Posisi itu seharusnya dimanfaatkan untuk memperoleh nilai tambah, bukan hanya menarik investasi," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Yusuf juga mengingatkan bahwa peluang Indonesia dalam industri kendaraan listrik tidak boleh hanya bergantung pada cadangan nikel.
Menurut dia, perkembangan teknologi baterai global menunjukkan sebagian produsen mulai beralih menggunakan baterai lithium iron phosphate (LFP) yang tidak lagi bergantung pada nikel.
Karena itu, Indonesia perlu memperkuat inovasi melalui kolaborasi riset antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri, menyusun standar nasional untuk teknologi baterai dan kendaraan listrik, serta memanfaatkan belanja pemerintah sebagai pasar awal bagi produk inovasi dalam negeri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemerintah Optimistis
Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Indonesia tengah memasuki fase baru sebagai basis produksi otomotif, termasuk kendaraan elektrifikasi.
Sepanjang semester I 2026, produksi kendaraan bermotor mencapai 615 ribu unit, meningkat 11,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan secara wholesales naik 15,9 persen menjadi 436 ribu unit.
Di sisi ekspor, kendaraan utuh (CBU) meningkat 7,7 persen, ekspor CKD naik 38 persen, sedangkan ekspor komponen melonjak 46 persen. Sementara impor kendaraan utuh turun 49 persen.
Untuk kendaraan elektrifikasi, penjualan mencapai 117 ribu unit atau tumbuh 69,4 persen secara tahunan. Angka tersebut setara 26,8 persen dari total penjualan kendaraan penumpang nasional, dengan sekitar 69 ribu unit merupakan kendaraan listrik berbasis baterai (BEV).
Agus menegaskan pemerintah tidak mengedepankan satu jenis teknologi otomotif dibandingkan teknologi lainnya.
"Kami tidak dalam posisi menempatkan satu teknologi sebagai lawan dari teknologi lain. Kendaraan listrik berbasis baterai, kendaraan hibrida, mesin pembakaran internal yang semakin efisien, serta pemanfaatan biodiesel dan bioetanol merupakan jalan menuju tujuan yang sama, yaitu emisi yang lebih rendah dan ketahanan energi yang lebih kuat," kata Agus.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!