Indonesia Jangan Hanya Jadi Perakit Mobil, Industri Komponen Harus Diperkuat
📅 Minggu, 02 Agu 2026, 06:00 WIB | Oleh: Tim PenulisJakarta – Optimisme pemerintah menjadikan Indonesia sebagai basis produksi otomotif dinilai perlu diimbangi dengan penguatan industri komponen, transfer teknologi, dan pendalaman rantai pasok agar Indonesia tidak hanya menjadi lokasi perakitan kendaraan.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan peningkatan produksi dan ekspor kendaraan memang menunjukkan perkembangan positif. Namun, indikator tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Indonesia telah menjadi basis produksi otomotif yang kuat.
"Memang ekspor kendaraan utuh terus meningkat, tetapi basis produksi yang kuat tidak hanya ditentukan oleh volume perakitan," kata Yusuf saat dihubungi di Jakarta, akhir pekan lalu.
Menurut dia, kekuatan industri otomotif justru ditentukan oleh kedalaman struktur industri, terutama kemampuan memproduksi komponen dan mengembangkan rantai pasok domestik.
Yusuf menilai Indonesia masih tertinggal dibandingkan Thailand dan Vietnam yang lebih dulu membangun ekosistem industri otomotif secara menyeluruh.
Sebaiknya Anda baca juga:
Thailand, misalnya, telah mengembangkan jaringan pemasok komponen hingga lapis kedua dan ketiga selama puluhan tahun. Sementara Vietnam dinilai berhasil menarik investasi melalui proses perizinan yang lebih cepat serta terintegrasi dengan industri elektronik.
Di sisi lain, Indonesia memang memiliki keunggulan berupa pasar otomotif yang besar dan cadangan mineral strategis, termasuk nikel untuk industri kendaraan listrik.
Namun, menurut Yusuf, keunggulan tersebut masih bersifat komparatif dan belum otomatis menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi yang berdaya saing tinggi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena itu, ia menyarankan pemerintah memperkuat ekosistem industri melalui berbagai kebijakan, mulai dari menjaga kepastian harga energi, meningkatkan efisiensi logistik, memberikan insentif fiskal yang dikaitkan dengan ekspor dan pendalaman industri, hingga memperluas akses pembiayaan bagi industri komponen skala menengah.
"Tanpa penguatan industri komponen, yang berkembang hanya aktivitas perakitan," ujarnya.
TKDN Jangan Formalitas
Yusuf juga menyoroti implementasi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Menurutnya, kebijakan tersebut seharusnya menjadi instrumen untuk memperdalam struktur industri, bukan sekadar memenuhi persyaratan administratif.
"Selama ini banyak perusahaan lebih fokus mengejar sertifikat daripada meningkatkan kemampuan teknologi," katanya.
Ia menilai kandungan lokal perlu diperluas hingga mencakup komponen berteknologi tinggi seperti sistem penggerak, elektronik kendaraan, hingga perangkat lunak, bukan hanya komponen sederhana seperti ban atau jok.
Selain itu, Yusuf menilai pemerintah perlu menjadikan alih teknologi sebagai syarat utama dalam setiap investasi industri otomotif, khususnya kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!