PBNU Tegaskan Tak Ada Toleransi Kekerasan di Pesantren, Pesantren Ilegal Diminta Ditutup
📅 Minggu, 02 Agu 2026, 06:30 WIB | Oleh: Tim PenulisIa menilai hubungan antara kiai dan santri juga perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Menurutnya, pola pendisiplinan yang dahulu dianggap lumrah tidak lagi sepenuhnya relevan di era keterbukaan informasi saat ini.
"Kalau dulu waktu kecil saya dimarahi kiai dianggap berkah. Tapi sekarang tidak bisa begitu karena eranya sudah berbeda," ujarnya.
Karena itu, pesantren didorong meninggalkan pola pembinaan yang berpotensi menimbulkan kekerasan fisik maupun psikis dan menggantinya dengan pendekatan yang lebih edukatif.
Komitmen Kementerian Agama
Komitmen serupa juga ditegaskan Menteri Agama Nasaruddin Umar melalui peluncuran Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman bagi anak di pesantren dan madrasah.
Menurut Menag, setiap anak berhak memperoleh pendidikan dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan menghormati martabat mereka.
"Yang kita lakukan ini adalah ikhtiar besar untuk memastikan setiap anak Indonesia yang belajar di pesantren, madrasah, maupun lembaga pendidikan lainnya berada di ruang yang aman, nyaman, dan memuliakan," kata Nasaruddin.
Ia menegaskan perlindungan anak merupakan bagian dari ajaran agama sekaligus tanggung jawab bersama untuk menjaga marwah pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang telah melahirkan banyak ulama, tokoh bangsa, dan pemimpin nasional.
"Justru karena kita mencintai dan memuliakan pesantren serta madrasah, kita berkewajiban merawatnya. Salah satu perbaikan yang tidak bisa lagi ditunda adalah memastikan tidak ada satu pun anak yang mengalami kekerasan di tempat mereka belajar dan mengenal Tuhan," ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!