Kebijakan Ekonomi Konsisten, Malaysia Nyaris jadi Negara Berpenghasilan Tinggi
📅 Kamis, 30 Jul 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiPada kesempatan terpisah, Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko, menilai Malaysia sudah lama berada dalam middle income trap atau jebakan pendapatan menengah karena kurang inovasi, lambatnya transisi ke industri bernilai tambah tinggi, serta hambatan struktural seperti kebijakan ekonomi yang kurang mengutamakan meritokrasi penuh.
“Untuk keluar dari jebakan tersebut, Malaysia melakukan reformasi dan menggeser target ambisius ekonomi agar bisa naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi. Fokusnya sekarang ke industri semikonduktor dan teknologi digital untuk mendongkrak produktivitas,” kata Suhartoko.
Dibanding dengan Indonesia, Suhartoko mengatakan saat ini berada pada kelompok Pendapatan Menengah Atas atau Upper-Middle Income dengan pendapatan per kapita menembus kisaran 5.000 dollar AS per tahun. Namun Indonesia masih menghadapi tantangan kerentanan kelas menengah serta ancaman jebakan pendapatan menengah.
“Berkaca dari pengalaman Malaysia dan kondisi ekonomi Indonesia yang ditopang UMKM, maka mau tidak mau pemerintah harus fokus kepada UMKM, karena daya serap tenaga kerjanya tinggi,” kata Suhartoko.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurutnya, penguatan UMKM harus dilakukan melalui peningkatan penguasaan teknologi, akses keuangan, dan pendampingan manajemen. Selain itu perlu ada sinergi antar UMKM maupun antara UMKM dengan industri besar.
“Ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk dan keberlanjutan UMKM. Jika ini serius dilakukan, akan mendorong pertumbuhan ekonomi tinggi dan penyerapan tenaga kerja besar,” jelasnya.
Suhartoko juga mengingatkan bahwa pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang tinggi harus disertai dengan pemerataan pendapatan. Saat ini, kata dia, pendapatan nasional Indonesia sekitar 1,4 triliun dollar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Fokus ke UMKM juga penting untuk meningkatkan produktivitas. Jangan sampai kita hanya mengejar angka pertumbuhan, tapi lupa pada kualitas dan pemerataan,” pungkasnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!