Kebijakan Ekonomi Konsisten, Malaysia Nyaris jadi Negara Berpenghasilan Tinggi
📅 Kamis, 30 Jul 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi» Indonesia seharusnya mampu mencapai hasil yang lebih baik apabila memiliki arah pembangunan yang jelas dan dijaga secara berkelanjutan.
JAKARTA - Malaysia sedikit lagi masuk kategori negara berpenghasilan tinggi, hanya 7,1 persen di bawah ambang batas klasifikasi Bank Dunia setelah perekonomiannya tumbuh 5,8 persen pada kuartal kedua (Q2) 2026, naik dari 5,4 persen yang tercatat pada Q1.
Menteri Ekonomi Malaysia Akmal Nasrullah Mohd Nasir dalam peluncuran laporan bertajuk “Survei Ekonomi OECD: Malaysia 2026, Senin (27/7), mengatakan Pemerintah negeri jiran itu akan memastikan momentum pertumbuhan dapat menghasilkan peningkatan produktivitas, lapangan kerja berkualitas, dan kenaikan pendapatan bagi warga Malaysia.
“Angka-angka ini memang menggembirakan, tetapi melampaui ambang batas tersebut bukanlah tujuan akhir. Yang terpenting adalah apakah pertumbuhan ini mampu menghasilkan upah yang lebih baik, lapangan kerja yang lebih berkualitas, dan daya beli yang lebih kuat bagi warga Malaysia,” papar Akmal.
Pemerintah Malaysia mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2026 pada kisaran 4-5 persen, yang didukung oleh permintaan domestik, investasi swasta, ekspor, serta industri berbasis teknologi seperti semikonduktor dan pusat data.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menanggapi pencapaian Malaysia tersebut, Peneliti Senior Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia (MEPI), Erwin Syahrial, menilai Indonesia jangan malu belajar dari konsistensi Malaysia dalam membangun ekonomi. Ironis memang, karena pada masa awal pembangunan, Malaysia justru banyak belajar dari Indonesia. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, negeri serumpun itu mampu menjalankan agenda pembangunan secara berkesinambungan dan hingga kini hampir mencapai status negara berpendapatan tinggi.
Keberhasilan Malaysia katanya bukan karena pemimpinnya gemar mengumbar ambisi menjadi negara maju. Sebaliknya, pemerintah Malaysia relatif fokus bekerja melalui kebijakan industri, pendidikan, investasi, dan reformasi birokrasi yang dijaga lintas pemerintahan.
Konsistensi tersebut membuat transformasi ekonomi berlangsung stabil dan menghasilkan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Dulu Malaysia banyak belajar dari Indonesia. Hari ini situasinya berbalik. Indonesia justru perlu belajar dari disiplin Malaysia dalam menjalankan agenda pembangunan. Mereka tidak banyak koar-koar soal menjadi negara maju, tetapi bekerja secara konsisten sehingga hasilnya terlihat,” kata Erwin.
Malaysia juga tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi menjaga agar hasil pembangunan dinikmati masyarakat secara lebih merata. Pemerintah negeri jiran terus memperkuat pendidikan, layanan kesehatan, penciptaan lapangan kerja bernilai tambah, serta perlindungan sosial untuk mempersempit kesenjangan pendapatan.
Hasilnya, koefisien Gini Malaysia berada di kisaran 0,39 dan menunjukkan tren membaik dalam beberapa tahun terakhir, mencerminkan komitmen pemerintah terhadap pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Erwin, Indonesia memiliki modal yang jauh lebih besar dibanding Malaysia, baik dari sisi jumlah penduduk, sumber daya alam, maupun besarnya pasar domestik. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar visi besar, melainkan konsistensi menjalankan kebijakan pembangunan lintas pemerintahan.
“Kalau Malaysia yang sumber dayanya lebih terbatas saja bisa mendekati negara maju melalui kebijakan yang konsisten dan pemerataan kesejahteraan, Indonesia seharusnya mampu mencapai hasil yang lebih baik apabila memiliki arah pembangunan yang jelas dan dijaga secara berkelanjutan,”kata Syahrial.
Kejar Target Ambisius
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!