Pemprov Sulawesi Tengah Dorong Hilirisasi Kakao Tingkatkan Nilai Ekonomi
📅 Selasa, 28 Jul 2026, 08:53 WIB | Oleh: Tim PenulisPALU – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) terus mendorong pengembangan hilirisasi komoditas unggulan kakao guna meningkatkan nilai tambah ekonomi dan kesejahteraan petani.
“Kami dari pemerintah provinsi melakukan pendampingan dan koordinasi bersama dengan pemerintah pusat untuk mendukung program hilirisasi, khususnya komoditas kakao di Sulawesi Tengah,” kata Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulawesi Tengah, Muhammad Nenk, di Palu, Selasa (28/7).
Ia mengatakan pengembangan hilirisasi kakao membutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, serta pihak terkait agar komoditas tersebut tidak hanya dijual dalam bentuk bahan baku, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.
Ia menjelaskan koordinasi dengan pemerintah pusat diperlukan agar data pengembangan bibit kakao di Sulawesi Tengah semakin akurat dan menjadi dasar dalam pelaksanaan program hilirisasi kakao di daerah.
Menurut dia, Sulawesi Tengah memiliki potensi besar sebagai salah satu daerah penghasil kakao dengan luas areal sekitar 266.670 hektare dan produksi mencapai sekitar 196.210 ton per tahun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, besarnya potensi tersebut belum diikuti dengan keberadaan industri pengolahan kakao di daerah.
“Kita ini termasuk penghasil kakao, bahan baku kakao yang besar, tapi tidak ada hilirisasi. Dalam artian, tidak ada pabrik, tidak ada pengolahan,” ujarnya.
Ia mengatakan kondisi itu menyebabkan sebagian besar kakao asal Sulawesi Tengah masih dikirim keluar daerah dalam bentuk bahan baku, sehingga nilai tambah dari proses pengolahan belum sepenuhnya dirasakan oleh petani.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena itu, kata dia, pemerintah provinsi membuka peluang investasi untuk pembangunan industri pengolahan kakao, terutama di wilayah yang menjadi sentra produksi seperti Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Poso.
“Kakao terbanyak itu di Parigi Moutong dengan Poso. Mungkin bisa diarahkan di Parigi atau Poso. Ketika ada investor tertarik membangun investasi, kita pemerintah harus memberi ruang,” ujarnya,” katanya.
Menurut dia, pihaknya juga melakukan diskusi dengan sejumlah pihak, termasuk GIZ, lembaga kerja sama internasional milik Pemerintah Jerman, yang turut mendampingi petani kakao serta memiliki jaringan offtaker atau pihak yang menyerap hasil produksi.
Ia berharap upaya pemerintah daerah dalam membuka kerja sama investasi, termasuk melalui kunjungan Gubernur Sulawesi Tengah ke China, dapat menarik investor untuk membangun industri pengolahan kakao di daerah.
Selain mendorong masuknya investasi, kata dia, pemerintah provinsi juga memperkuat pengembangan komoditas kakao melalui penyediaan bibit dan pendampingan kepada petani untuk meningkatkan produksi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!