Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

ITS Kembangkan Bakteri untuk Pulihkan Lingkungan Tercemar

📅 Kamis, 23 Jul 2026, 00:00 WIB | Oleh:
ITS Kembangkan Bakteri untuk Pulihkan Lingkungan Tercemar Doc: Istimewa
Ket. Hingga saat ini, hasil penelitian tersebut telah diuji pada skala laboratorium dan beberapa lokasi lapangan, termasuk kawasan kilang minyak di Sumatera.

SURABAYA - Pencemaran lingkungan masih menjadi tantangan serius yang mengancam kualitas tanah, air, dan udara di berbagai wilayah. Menjawab persoalan tersebut, Guru Besar ke-249 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ipung Fitri Purwanti, mengembangkan teknologi bioremediasi berbasis bakteri untuk memulihkan lingkungan yang tercemar oleh berbagai jenis kontaminan.

Guru Besar Departemen Teknik Lingkungan ITS tersebut menjelaskan bahwa bioremediasi merupakan metode pemulihan lingkungan yang memanfaatkan mikroorganisme. Selama lebih dari dua dekade menekuni bidang remediasi lingkungan, ia mengembangkan berbagai penelitian yang berfokus pada pemulihan tanah, air, hingga udara tercemar menggunakan bakteri biasa maupun bakteri yang bersimbiosis dengan tanaman.

Lebih lanjut, Ipung memaparkan bahwa risetnya diawali dengan mengisolasi bakteri yang secara alami telah hidup pada lokasi tercemar. Setelah diisolasi dan dikembangkan di laboratorium, bakteri tersebut dimanfaatkan kembali untuk menguraikan polutan pada lokasi lain dengan karakteristik pencemaran serupa. “Proses ini lebih efektif karena memanfaatkan mikroorganisme yang telah beradaptasi dengan lingkungan tercemar,” jelasnya.

Dalam penelitiannya, Ipung memanfaatkan beberapa jenis bakteri seperti Bacillus cereus, Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus gallinarum. Di antara keempatnya, Staphylococcus gallinarum menjadi temuan yang paling menarik karena berhasil diisolasi dari tanah yang tercemar limbah kerosin hasil pengolahan aspal. “Bakteri tersebut memiliki kemampuan resistensi dan degradasi yang lebih baik dibandingkan beberapa bakteri lain.” ungkapnya.

Selain meneliti efektivitas bakteri tunggal, alumnus S1 Teknik Lingkungan ITS itu juga mengembangkan metode konsorsium bakteri dengan mengombinasikan beberapa jenis bakteri untuk mengetahui efektivitas proses remediasi. Menurutnya, kombinasi bakteri tidak selalu menghasilkan kinerja yang lebih baik dibandingkan penggunaan satu jenis bakteri saja. Hal tersebut bergantung pada kemampuan masing-masing mikroorganisme untuk saling bersinergi maupun beradaptasi terhadap polutan.

Hingga saat ini, menurut Ipung, hasil penelitian tersebut telah diuji pada skala laboratorium dan beberapa lokasi lapangan, termasuk kawasan kilang minyak di Sumatera. Pengujian tersebut menunjukkan bahwa bakteri mampu menurunkan kadar pencemar hidrokarbon pada tanah. Ipung mengatakan bahwa teknologi bioremediasi tidak hanya efektif untuk pencemar organik seperti minyak bumi, tetapi juga berpotensi diaplikasikan pada pencemar anorganik, seperti logam berat.

Dengan pengembangan teknologi bioremediasi ini, Ipung berharap agar risetnya dapat bermanfaat untuk menjawab persoalan lingkungan secara berkelanjutan. Inovasi tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak, poin ke-13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, serta poin ke-15 mengenai Menjaga Ekosistem Daratan melalui pemanfaatan teknologi ramah lingkungan. 

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp104.850...
Advertisement
Mentan Amran Berang, Sebut Masuknya Beras Ilegal Khianati Kerja Keras 115 Juta Petani Indonesia

Mentan Amran Berang, Sebut Masuknya Beras Ilegal Khianati Kerja Keras 115 Juta Petani Indonesia

24 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.