Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Harga Rumah Nasional Melambat, Segmen Premium Justru Melesat 46,7 Persen

📅 Senin, 20 Jul 2026, 19:07 WIB | Oleh:

“Rumah berukuran besar dan premium tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata pasar, sementara segmen menengah bergerak lebih lambat karena daya beli belum pulih sepenuhnya. Ini menunjukkan pasar semakin selektif, dengan pertumbuhan yang terkonsentrasi pada segmen dan lokasi yang memiliki permintaan lebih kuat," ujarnya melalui siaran pers pada hari Senin (20/7).

Pasokan Rumah Menyusut, Minat Pembeli Tetap Tinggi

Selain harga, laporan juga mencatat berkurangnya pasokan rumah di pasar sekunder. Volume listing rumah sekunder turun 2,4 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan merosot 17 persen dibandingkan Juni tahun lalu. Penurunan ini mengindikasikan semakin terbatasnya jumlah rumah yang tersedia di pasar.

Meski demikian, minat masyarakat untuk mencari rumah belum menunjukkan penurunan. Aktivitas pencarian properti masih didominasi kawasan Jabodetabek. Pada Juni 2026, Tangerang menjadi wilayah dengan proporsi pencarian terbesar, yakni 15,2 persen, disusul Jakarta Selatan sebesar 11,9 persen, dan Jakarta Barat sebesar 10,6 persen. Marisa menilai kondisi tersebut menunjukkan keseimbangan antara permintaan dan pasokan masih relatif terjaga.

"Penurunan supply belum menunjukkan adanya tekanan jual di pasar. Pemilik rumah cenderung masih menahan asetnya, sementara calon pembeli tetap aktif melakukan pencarian. Selama keseimbangan ini terjaga, harga rumah sekunder berpotensi tetap relatif stabil," katanya.

Kenaikan BI Rate Belum Berdampak Besar pada KPR

Laporan juga menyoroti kondisi pembiayaan perumahan di tengah kebijakan moneter. Dalam beberapa bulan terakhir, Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin hingga berada di level 5,75 persen. Namun, hingga akhir Mei 2026, rata-rata Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) untuk kredit pemilikan rumah (KPR) di bank-bank besar hanya berubah tipis dari 9,27 persen menjadi 9,20 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan kenaikan suku bunga acuan belum sepenuhnya diteruskan ke bunga KPR sehingga ruang pembiayaan bagi masyarakat yang membeli rumah melalui skema kredit masih relatif stabil.

Menurut Marisa, semester kedua 2026 akan menjadi periode penting untuk melihat arah pergerakan pasar hingga akhir tahun. Semester kedua akan menjadi periode penting untuk melihat apakah pemulihan pasar semakin meluas atau tetap terkonsentrasi pada segmen tertentu.

“Selama pasokan masih terbatas, permintaan tetap terjaga, dan pembiayaan belum mengalami pengetatan yang signifikan, kami melihat pasar properti sekunder masih memiliki fondasi yang cukup kuat hingga akhir 2026," jelasnya.

Berdasarkan temuan tersebut, pasar properti sekunder Indonesia kini memasuki fase yang lebih selektif. Kenaikan harga tidak lagi terjadi secara merata, melainkan terkonsentrasi pada kota dan segmen dengan permintaan yang kuat. Di sisi lain, terbatasnya pasokan serta tingginya aktivitas pencarian rumah menjadi indikator yang akan menentukan arah pasar properti pada paruh kedua 2026.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Abu Vulkanik Masih Bisa Menembus Masker N95, Kecuali Diberi Tambahan
    Pantesan negara ga maju2, profesor UI lohhhh , ...
  • BTN Dorong Industri Kopi Indonesia Naik Kelas Lewat Kolaborasi dan Digitalisasi
    Langkah luar biasa dari BTN dalam menginisiasi kolaborasi ...
  • OJK Bubarkan 58 Dana Pensiun, Ada Apa dengan Industri Pensiun RI?
    Meskipun terdapat pembubaran puluhan dana pensiun pemberi kerja, ...
  • Kini Deli Serdang Kembangkan Industri Jamur Menggunakan Elektrifikasi, Bisa Ditiru
    Inisiatif pemanfaatan teknologi elektrifikasi melalui mesin pengaduk media ...
  • Perkuat Daya Saing di Tengah Dinamika Pasar Global, VDNI Pacu Pertumbuhan Berkelanjutan di 2026
    Langkah strategis PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) ...
Megapolitan
Jakarta Diprakirakan Berpot...
Daerah
BMKG Sebut 25 Daerah Jateng...
Advertisement
Dokumenter Elon Musk Bikin Heboh, Sisi Kontroversial Sang Miliarder Dibongkar

Dokumenter Elon Musk Bikin Heboh, Sisi Kontroversial Sang Miliarder Dibongkar

09 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.