FIFA Tetapkan Tuan Rumah Piala Dunia hingga 2034, Turnamen 2030 Ukir Sejarah Digelar di Tiga Benua
📅 Senin, 20 Jul 2026, 13:55 WIB | Oleh: Benny Mudesta PutraNEW YORK – Setelah sukses menggelar Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, FIFA telah menetapkan tuan rumah untuk dua edisi berikutnya. Dalam Kongres Luar Biasa FIFA pada bulan Desember 2024, badan sepak bola dunia itu secara resmi mengesahkan penyelenggara Piala Dunia 2030 dan 2034 sekaligus.
Keputusan tersebut menghadirkan babak baru dalam sejarah turnamen paling bergengsi di dunia. Piala Dunia 2030 akan menjadi edisi paling unik sepanjang sejarah karena digelar di enam negara yang tersebar di dua benua, sedangkan Arab Saudi dipercaya menjadi tuan rumah tunggal Piala Dunia 2034.
Piala Dunia 2030 akan dipusatkan di Spanyol, Portugal, dan Maroko sebagai penyelenggara utama. Ketiga negara itu akan menggelar hampir seluruh pertandingan, termasuk partai final. Ini menjadi kali pertama dalam sejarah Piala Dunia ketika satu turnamen berlangsung di dua benua sekaligus, yakni Eropa dan Afrika.
Namun, FIFA juga memberikan penghormatan istimewa terhadap sejarah kelahiran Piala Dunia. Untuk memperingati 100 tahun penyelenggaraan turnamen pertama yang berlangsung di Uruguay pada 1930, tiga pertandingan pembuka akan dimainkan di Amerika Selatan.
Uruguay, Argentina, dan Paraguay masing-masing mendapat kehormatan menjadi tuan rumah satu pertandingan. Laga pertama akan kembali digelar di Stadion Centenario, Montevideo, stadion yang menjadi saksi lahirnya Piala Dunia pada 1930. Setelah tiga pertandingan tersebut selesai, seluruh rangkaian turnamen akan berpindah ke Eropa dan Afrika Utara hingga final. FIFA menjadwalkan Piala Dunia 2030 berlangsung pada 8 Juni hingga 21 Juli 2030.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski daftar stadion belum ditetapkan secara final, FIFA telah menyiapkan sekitar 20 venue yang tersebar di tiga negara utama. Di Spanyol, Santiago Bernabeu di Madrid dan Camp Nou yang tengah direnovasi menjadi dua stadion unggulan. Selain itu, sejumlah kota seperti Sevilla, Bilbao, Gijon, Las Palmas, Murcia, San Sebastian, Zaragoza, Valencia, dan Vigo juga diproyeksikan menjadi bagian dari penyelenggaraan.
Portugal akan memusatkan pertandingan di Lisbon dan Porto, sementara Maroko mengandalkan stadion-stadion di Casablanca, Rabat, Marrakech, Tangier, Fes, serta Agadir.
Sorotan terbesar tertuju pada pembangunan Grand Stade Hassan II di Provinsi Benslimane, dekat Casablanca. Stadion berkapasitas sekitar 115.000 penonton itu diproyeksikan menjadi stadion sepak bola terbesar di dunia sekaligus kandidat terkuat sebagai lokasi pertandingan final.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, tiga pertandingan perayaan seabad Piala Dunia akan berlangsung di Estadio Monumental, Buenos Aires, Estadio Osvaldo Dominguez Dibb di Asuncion, dan Estadio Centenario di Montevideo.
Bagi Maroko, penyelenggaraan Piala Dunia memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar ajang olahraga. Setelah lima kali gagal dalam pencalonan, negara Afrika Utara tersebut akhirnya berhasil memperoleh hak menjadi tuan rumah bersama pada Desember 2024.
Pemerintah di bawah Raja Mohammed VI menjadikan Piala Dunia sebagai bagian dari agenda besar modernisasi nasional. Investasi bernilai miliaran dolar AS dikucurkan untuk membangun stadion, memperluas bandara, mengembangkan jaringan kereta api cepat, hingga memperbaiki infrastruktur jalan.
Sejumlah analis menilai proyek tersebut merupakan strategi soft power Maroko untuk memperkuat citra internasional, menarik investasi asing, sekaligus meningkatkan posisi negara itu sebagai salah satu kekuatan baru di Afrika. Bahkan, sebagian pengamat membandingkan proyek ini dengan Olimpiade Barcelona 1992 yang menjadi titik balik kebangkitan citra Spanyol di mata dunia.
Namun, pembangunan besar-besaran tersebut juga memunculkan kritik. Pada akhir 2025, sejumlah kelompok muda di Maroko menggelar demonstrasi karena menilai anggaran miliaran dolar untuk pembangunan stadion seharusnya lebih diprioritaskan bagi sektor pendidikan dan kesehatan. Selain itu, krisis air yang masih melanda sejumlah wilayah Maroko turut menimbulkan pertanyaan mengenai keberlanjutan proyek-proyek infrastruktur tersebut. Banyak pengamat menilai warisan sesungguhnya dari Piala Dunia 2030 bukanlah stadion megah, melainkan sejauh mana masyarakat Maroko benar-benar merasakan manfaat ekonomi dan sosial setelah turnamen berakhir.
Empat tahun berselang, tongkat estafet akan berpindah ke Arab Saudi. FIFA telah memastikan negara tersebut menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034, menjadikannya negara Timur Tengah kedua yang dipercaya menggelar turnamen terbesar sepak bola dunia setelah Qatar pada 2022.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!