Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kelompok Garis Keras Iran Memperingatkan Potensi Kudeta saat Gencatan Senjata dengan AS Berada Di Bawah Tekanan

📅 Minggu, 19 Jul 2026, 20:05 WIB | Oleh:
Kelompok Garis Keras Iran Memperingatkan Potensi Kudeta saat Gencatan Senjata dengan AS Berada Di Bawah Tekanan Doc: Istimewa
Ket. Meski persaingan politik di dalam negeri semakin terbuka, para analis menilai kepemimpinan Iran pada dasarnya masih memiliki tujuan yang sama, yakni mengakhiri konflik dengan cara memperoleh pelonggaran sanksi internasional tanpa kehilangan pengaruh strategisnya di Selat Hormuz.

TEHERAN - Ketegangan politik di Iran dilaporkan semakin memanas. Faksi-faksi paling garis keras di negara itu menuduh para pejabat tinggi pemerintah melakukan "kudeta halus" terhadap kepemimpinan revolusi, di tengah rapuhnya gencatan senjata dengan Amerika Serikat yang kembali berada di bawah tekanan.

Dikutip Times of India, yang mengacu pada laporan eksklusif CNN, tuduhan tersebut memperlihatkan semakin dalamnya perpecahan di internal elite Republik Islam Iran setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Situasi memanas setelah prosesi pemakaman Ali Khamenei. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Presiden Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mendapat sambutan penuh permusuhan dari sebagian pelayat.

Massa dilaporkan meneriakkan slogan "mati bagi mereka yang berkompromi" kepada Pezeshkian. Sementara Araghchi disebut menjadi sasaran lemparan batu dan diteriaki sebagai "pengkhianat" karena perannya dalam merundingkan gencatan senjata dengan Washington serta upaya pelonggaran sanksi Amerika Serikat.

Kemarahan kelompok ultra-garis keras dipicu keyakinan bahwa pemerintah telah menyerah kepada Amerika Serikat alih-alih membalas kematian Ali Khamenei. Mereka juga menuding para pejabat mengabaikan kewenangan Pemimpin Tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, yang hingga kini masih sangat jarang tampil di hadapan publik sejak menggantikan ayahnya.

Kelompok garis keras menuduh Presiden Pezeshkian, Ketua Parlemen sekaligus kepala negosiator Mohammad Bagher Ghalibaf, serta Abbas Araghchi sedang mengonsolidasikan kekuasaan ketika Mojtaba Khamenei tidak terlihat di ruang publik.

Pakar Iran yang berbasis di Amerika Serikat, Arash Azizi, mengatakan absennya Mojtaba justru memicu berkembangnya berbagai spekulasi mengenai perebutan kekuasaan di Teheran.

"Ketidakhadiran Mojtaba membuat mereka tidak memiliki akses kepadanya. Pada saat yang sama, Ghalibaf dan sekutunya dianggap secara efektif mengendalikan negara. Karena itulah kelompok ultra-garis keras menuduh Ghalibaf dan Pezeshkian merancang sebuah 'kudeta' terhadap Mojtaba," ujar Azizi. 

Beberapa hari sebelum pemakaman Ali Khamenei, anggota parlemen garis keras Mahmoud Nabavian bahkan secara terbuka mempertanyakan arah pemerintahan.

Ia memperingatkan masyarakat Iran dengan mengatakan, "Apakah sebuah kudeta sedang dipersiapkan?"

Setelah pemakaman berlangsung, Nabavian kembali menyerukan pembalasan atas kematian Ali Khamenei dan menegaskan bahwa pihaknya akan melawan setiap upaya kudeta.

Menurut CNN, prosesi pemakaman berubah menjadi ajang konsolidasi kelompok garis keras yang menuntut dimulainya kembali aksi militer terhadap Amerika Serikat serta menolak segala bentuk kesepakatan dengan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Ketegangan semakin meningkat setelah Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) kembali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Serangan tersebut dibalas oleh Amerika Serikat dan memicu kembali seruan dari kelompok garis keras agar pemerintah membatalkan gencatan senjata.

Bahkan sebelum bentrokan kembali terjadi, ancaman terhadap pemerintah sudah mulai bermunculan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Aldila Tak Mampu Menerobos Semifinal WTA Ningbo

24 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Aldila Tak Mampu Menerobos ...

El Clasico Jadi Laga Superman Kontra Batman

31 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
El Clasico Jadi Laga Superm...

Perlu Diperbanyak Kontes Film Pendek Guna Dorong Kreativitas

39 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Perlu Diperbanyak Kontes Fi...
Daerah
Bantul Raih TPAKD Award 202...
Megapolitan
Jakarta Kota Sinema Makin K...
Megapolitan
Usaha Pembangunan Jaya Jika...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.