Kelompok Garis Keras Iran Memperingatkan Potensi Kudeta saat Gencatan Senjata dengan AS Berada Di Bawah Tekanan
📅 Minggu, 19 Jul 2026, 20:05 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SSeorang penyanyi religi yang memiliki kedekatan dengan aparat keamanan Iran, Mohammad Ali Bakhshi, melontarkan ancaman keras kepada Presiden Pezeshkian.
"Tuan Presiden, jika syarat-syarat pemimpin tidak dipenuhi, maka kamilah yang akan menjadi pedang di leher Anda. Kami akan menghadirkan neraka bagi Anda."
Sementara itu, anggota parlemen garis keras lainnya, Kamran Ghazanfari, menuduh para pejabat tinggi negara berusaha mengurangi kewenangan Pemimpin Tertinggi.
Menurutnya, pemerintah sedang memperbesar peran Dewan Keamanan Nasional Tertinggi sekaligus mengurangi peran Pemimpin Tertinggi dan parlemen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menyebut langkah tersebut sebagai "kudeta politik" yang dijalankan secara bertahap.
Mahmoud Nabavian dan seorang anggota parlemen lain yang menentang kesepakatan dengan Amerika Serikat dicopot dari Komisi Keamanan Nasional parlemen pekan ini.
Sejumlah analis menilai langkah tersebut merupakan upaya kubu pemerintah untuk menyingkirkan unsur-unsur paling radikal dari pusat pengambilan keputusan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Peneliti dari German Institute for International and Security Affairs, Hamidreza Azizi, mengatakan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf kini berupaya mengurangi pengaruh kelompok garis keras karena dianggap semakin membebani stabilitas sistem politik Iran.
"Kita melihat Ghalibaf mulai menggunakan pengaruhnya untuk menyingkirkan kelompok garis keras. Mereka menjadi beban bagi sistem dan kini membawa persaingan politik mereka ke ruang publik, terutama ketika situasi Iran semakin tidak stabil," kata Hamidreza Azizi.
Meski persaingan politik di dalam negeri semakin terbuka, para analis menilai kepemimpinan Iran pada dasarnya masih memiliki tujuan yang sama, yakni mengakhiri konflik dengan cara memperoleh pelonggaran sanksi internasional tanpa kehilangan pengaruh strategisnya di Selat Hormuz.
Namun, terus absennya Mojtaba Khamenei dari ruang publik serta meningkatnya tekanan dari kelompok ultra-garis keras kembali memunculkan pertanyaan mengenai siapa sebenarnya yang kini memegang kendali kekuasaan di Republik Islam Iran.
Di tengah situasi tersebut, mantan Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki bahkan menyerukan tindakan langsung terhadap pasukan Amerika Serikat di kawasan.
Ia mengusulkan agar Iran menyerang salah satu pangkalan militer AS di Timur Tengah dan menangkap sekitar 100 tentara Amerika untuk dibawa ke Iran sebagai bentuk balasan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!