Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Analis Intelejen Sebut Strategi Baru AS Lewat NATO Bidik 'Poros Otokratis' dan Gerus Kekuatan Russia–Tiongkok dan Iran

📅 Sabtu, 18 Jul 2026, 00:00 WIB | Oleh:

Laporan tersebut juga menyebut meningkatnya serangan terhadap infrastruktur energi Russia berdampak langsung pada kepentingan ekonomi Tiongkok.

Beijing kini harus menghadapi risiko terganggunya pasokan energi dan bahan baku strategis, termasuk dari Pabrik Pengolahan Gas Amur, salah satu produsen helium terbesar dunia yang memasok kebutuhan industri semikonduktor dan kecerdasan buatan Tiongkok.

Selain itu, Beijing juga diperkirakan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk menopang perekonomian Russia melalui sistem pembayaran yuan, mempertahankan kontrak energi, hingga melobi kepentingan Moskow di berbagai forum internasional.

Iran Dinilai Semakin Terisolasi

Analisis tersebut juga menghubungkan strategi baru Washington dengan meningkatnya tekanan terhadap Iran.

Menurut laporan itu, kerusakan infrastruktur Russia mengurangi kemampuan Moskow membantu Teheran, sementara serangan Amerika Serikat terhadap sejumlah jalur logistik utama Iran semakin mempersempit ruang gerak negara tersebut.

Salah satu yang disorot adalah penghancuran jembatan rel Ak-Takeh-Khan di Provinsi Golestan yang memutus koridor logistik utama Iran menuju Russia dan Tiongkok melalui Asia Tengah.

Dengan melemahnya jalur pasokan tersebut, kemampuan Russia dan Tiongkok mendukung Iran disebut ikut berkurang.

Pergeseran Strategi Gedung Putih

Solid Info menyimpulkan pemerintahan Trump kini meninggalkan pendekatan diplomasi transaksional yang sebelumnya mencoba menarik Moskow menjauh dari Beijing melalui berbagai konsesi.

Sebagai gantinya, Washington memilih strategi yang berfokus pada pelemahan kemampuan ekonomi dan logistik Russia sehingga secara tidak langsung juga mengurangi kekuatan seluruh poros otokratis.

Analis menilai perkembangan perang Ukraina sepanjang 2026 justru menghasilkan dampak yang berlawanan dengan harapan Russia dan Tiongkok. Jika sebelumnya konflik diperkirakan akan menguras sumber daya negara-negara Barat, kini justru Russia mengalami tekanan ekonomi yang semakin besar, Iran menghadapi keterisolasian yang meningkat, sementara Tiongkok harus menanggung beban lebih besar untuk mempertahankan dua sekutu utamanya.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa Ukraina, yang semula dipandang sebagai titik lemah blok demokrasi, kini telah berubah menjadi faktor yang secara signifikan melemahkan poros otokratis dalam persaingan geopolitik global.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Asosiasi Ojek Online: Aturan Bagi Hasil 92:8 Persen Beri Dampak Nyata Pengemudi Ojol
    Preview komentar:
    Saya bingung ojol seperti Grab gojek Maxim itu ...
    Pak presiden jangan percaya lap.bawahan yg ada ojol ...
  • Ketahanan Pangan Diperkuat Rp195,3 Triliun, Mampukah Harga Pangan Ikut Stabil?
    Preview komentar:
    Meskipun fokus RAPBN 2027 ini sangat kuat pada ...
  • Tenun Dinilai Menekraf Harus Ditampilkan Agar Nilai Ekonominya Berkembang
    Preview komentar:
    Langkah strategis Kementerian Ekraf dalam mensertifikasi desain tenun ...
Nasional
Wisatawan Jangan Resah! Dis...
Nasional
Kapan Wisata Bromo Dibuka L...
Hari Ini Diskon Pertamax Gan, Lumayan Bisa Hemat Rp450 per Liter

Hari Ini Diskon Pertamax Gan, Lumayan Bisa Hemat Rp450 per Liter

17 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.