KKP Genjot Pengembangan Karbon Biru untuk Dongkrak Nilai Ekonomi Pesisir
📅 Kamis, 16 Jul 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya mengembangkan program karbon biru sebagai instrumen pembangunan serta mendukung aksi mitigasi perubahan iklim. Terbaru, Direktorat Pengelolaan Kelautan KKP menjajaki pengembangan proyek inovasi karbon biru berintegritas tinggi bersama Rubicon Carbon, perusahaan solusi karbon asal Amerika Serikat (AS).
Sinergi KKP dan Rubicon Carbon berpotensi mendatangkan investasi di bidang karbon, pengembangan teknologi, hingga pembiayaan inovatif untuk peningkatan kualitas pengelolaan ekosistem karbon biru nasional, seperti mangrove, terumbu karang, hingga padang lamun. KKP sendiri saat ini tengah menyiapkan regulasi penyelenggaraan instrument Nilai Ekonomi Karbon (NEK), dengan melakukan revisi Permen 1 tahun 2025 tentang tata cara Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon di Sektor Kelautan.
“Salah satu fokus pengembangan saat ini adalah revitalisasi kawasan pesisir Pantai Utara Jawa melalui restorasi mangrove yang dipadukan dengan perbaikan sistem budidaya tambak. Program ini diarahkan untuk memulihkan kawasan pesisir yang mengalami degradasi selama puluhan tahun sekaligus meningkatkan kapasitas penyerapan karbon dan produktivitas ekonomi masyarakat,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono di Jakarta, Rabu (15/7).
Dalam pertemuan dengan tim Rubicon Carbon, Menteri Trenggono memaparkan program karbon nasional. Diantaranya rencana pengembangan proyek restorasi mangrove skala besar di Pantai Utara Jawa dan penguatan pengelolaan kawasan konservasi laut.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi pemantauan untuk mengukur kondisi mangrove, padang lamun, dan terumbu karang akan menjadi bagian penting dalam penyusunan data karbon biru yang kredibel dan memenuhi standar internasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Indonesia memiliki salah satu potensi karbon biru (blue carbon) terbesar di dunia berkat kepemilikan sekitar 3,3 juta hektare hutan mangrove yang terluas secara global dan sekitar 293 ribu hektare padang lamun. Kedua ekosistem tersebut diperkirakan mampu menyimpan hingga 3,3 gigaton karbon, atau sekitar 17 persen cadangan karbon biru dunia, sehingga menjadikan Indonesia sebagai aktor strategis dalam mitigasi perubahan iklim sekaligus pengembangan ekonomi biru berbasis perdagangan karbon dan jasa lingkungan.
Jajaki Kemitraan
Melalui kemitraan dengan Rubicon Carbon, KKP akan menjajaki penyusunan studi kelayakan, pengembangan proyek percontohan, mobilisasi investasi, hingga akses terhadap pasar karbon internasional. Tahapan ini diharapkan menghasilkan proyek karbon biru yang memenuhi standar global dan mampu menarik pembeli kredit karbon sejak tahap awal pengembangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kami melihat hal ini sebagai kepemimpinan sejati di pasar dalam memulihkan dan melestarikan mangrove. Dari pihak kami, kami sangat menantikan kerja sama dengan KKP, serta menjajaki bagaimana mengembangkan proyek tingkat lanskap yang berkualitas tinggi di Indonesia. Kami berharap dapat menjadikannya contoh berskala kelas dunia tentang bagaimana mereplikasi solusi-solusi ini untuk memulihkan mangrove di seluruh dunia,” ungkap Head of Asia and Head of Asset Management Rubicon Carbon, Flora Ji.
Filipe Blackwood Oliveira, Chief Market Relations Officer Rubicon Carbon menambahkan Rubicon Carbon berkomitmen untuk membantu masyarakat, serta memastikan masyarakat mendapatkan kemakmuran yang memang seharusnya terwujud, bukan hanya untuk hari ini, melainkan untuk 50 tahun ke depan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!