Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Efek Ganda B50 Menggeliat, Ini Penjelasan Pakar

📅 Minggu, 12 Jul 2026, 17:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Efek Ganda B50 Menggeliat, Ini Penjelasan Pakar Doc: Istimewa.
Ket. Ilustrasi - Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) melakukan uji coba penggunaan bahan bakar biodiesel 50 persen (B50).

MALANG – Program Biodiesel B50 merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui peningkatan pemanfaatan bahan bakar nabati berbasis minyak sawit.

Selain mengurangi ketergantungan pada impor solar, implementasi B50 berpotensi meningkatkan nilai tambah industri sawit domestik, memperkuat serapan produksi petani, serta menekan emisi karbon.

Namun, keberhasilan program ini bergantung pada kesiapan pasokan bahan baku, kualitas biodiesel, infrastruktur distribusi, serta kemampuan industri dan sektor transportasi beradaptasi agar implementasinya berjalan efektif tanpa mengganggu kinerja mesin maupun stabilitas pasokan energi.

Pakar ekonomi dari Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, Noval Adib menilai pemanfaatan kelapa sawit sebagai bahan baku biodisel melalui Program B50 mampu memunculkan efek ganda bagi perekonomian domestik.

"Ini menggerakkan perekonomian dan jelas positif bagi APBN tapi banyak sektor pula yang dalam waktu serentak ikut bergerak, seperti sektor kelapa sawit itu sendiri, kemudian sektor distribusi, hingga sektor mesin pengolahannya," kata Noval di Kota Malang, Sabtu (12/7).

Menurut dia, implementasi B50 mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak mentah sehingga mencegah pembengkakan belanja pada APBN.

Langkah yang telah ditempuh oleh pemerintah pun disebutnya menjadi bagian strategi mengoptimalkan potensi dalam negeri yang akan menjadi kunci penting menuju kemandirian energi.

​"Kalau kita bisa lebih mandiri dengan menggunakan bahan bakar kelapa sawit atau crude palm oli (CPO) tentunya akan menekan beban anggaran," ujarnya.

Namun, dirinya tetap mengingatkan kepada pemerintah agar selalu cermat dan berhati-hati dalam menjaga keseimbangan antar suplai di pasar domestik, sebab CPO telah menjadi komoditas utama untuk produksi minyak goreng yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Menurut dia, pemerintah perlu tata kelola pasokan dengan baik, sehingga tak sampai memunculkan persoalan perebutan bahan baku antara industri biodisel dan pangan akibat peningkatan kebutuhan terhadap suatu komoditas.

Kepastian pasokan untuk dua industri tersebut menjadi jalan dalam meminimalkan potensi inflasi.

​Noval juga menekankan potensi biaya tersembunyi pada setiap dinamika yang muncul karena kebijakan baru, misalnya berupa dampak sosial atau ketimpangan antarsektor industri.

"Standardisasi, monitoring, pengendalian, serta evaluasi ketika dijalankan benar-benar dilaksanakan dengan disiplin, supaya kebijakan B50 yang tujuannya mulia untuk mengurangi ketergantungan minyak dunia ini bisa sukses, maka pelaksanaannya juga harus benar," ujar dia.

Pemerintah dikatakannya harus melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat yang notabene merupakan konsumen bahan bakar.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

B50 Resmi Jalan, Impor Solar RI Dipangkas 18 Juta Kiloliter

B50 Resmi Jalan, Impor Solar RI Dipangkas 18 Juta Kiloliter

12 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.