Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Manusia Hobbit Flores Hidup dari Sisa Mangsa Komodo?

📅 Rabu, 08 Jul 2026, 07:37 WIB | Oleh:

Selama ini, bukti penggunaan api umumnya dikaitkan dengan spesies berotak besar seperti Homo erectus, Neanderthal, dan Homo sapiens. Dugaan bahwa Homo floresiensis mampu menggunakan api sempat dijadikan dasar bahwa mereka memiliki kecerdasan yang relatif maju.

Namun, tim peneliti membantah hal tersebut setelah menganalisis sekitar 4.500 tulang tikus (hewan pengerat) yang selama ribuan tahun tertimbun di lantai Gua Liang Bua akibat aktivitas burung hantu.

Apabila manusia hobbit secara rutin membuat perapian di dalam gua, tulang-tulang tikus dan Stegodon di lapisan tanah tersebut seharusnya memperlihatkan bekas hangus akibat panas. Nyatanya, hasil analisis tidak menemukan satu pun tulang yang menunjukkan tanda terbakar.

Para peneliti menyimpulkan bahwa sejumlah kecil tulang yang terbakar di Gua Liang Bua berasal dari lapisan sedimen yang lebih muda. Tulang-tulang tersebut merupakan hasil aktivitas Homo sapiens yang baru mulai menghuni gua sekitar 46.000 tahun lalu—jauh setelah Homo floresiensis dan Stegodon punah dari Flores.

Berdampingan dengan Komodo

Jika kesimpulan ini benar, maka Homo floresiensis menjalani kehidupan yang sangat berbeda dari kerabat manusia lainnya. Mereka kemungkinan bertahan hidup dengan mengonsumsi kombinasi daging mentah hasil memulung sisa komodo, tumbuhan, serta serangga, tanpa memasaknya terlebih dahulu.

Meski hidup berdampingan dengan komodo selama puluhan ribu tahun, mereka tampaknya mampu menghindari serangan predator tersebut. Paleoantropolog Briana Pobiner, rekan penulis penelitian dari Smithsonian Institution, menjelaskan bahwa komodo modern jarang menyerang manusia tanpa alasan. Hidup secara berkelompok dan selalu waspada kemungkinan sudah cukup bagi Homo floresiensis untuk mengurangi risiko menjadi mangsa.

Bagi para ilmuwan, temuan baru ini sangat krusial karena membuka kemungkinan bahwa jalur evolusi Homo floresiensis terpisah lebih awal dari garis keturunan manusia ­modern.

Penelitian ini membuktikan bahwa berbagai spesies manusia purba yang hidup pada periode yang sama ternyata memiliki tingkat kecerdasan, kemampuan adaptasi, dan organisasi sosial yang sangat ­berbeda.hay

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Syukuran, PTPN I Teguhkan K...
Megapolitan
Petugas Damkar Gugur di Kra...

KMP Mutiara Sentosa 2 Terbakar di Perairan Madura, Penumpang Nekat Lompat ke Laut

KMP Mutiara Sentosa 2 Terbakar di Perairan Madura, Penumpang Nekat Lompat ke Laut

02 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.