IHSG Sepanjang Tahun Ini Ambruk 32 Persen, Pasar Kirim Sinyal Keras Soal Kepercayaan Investor
📅 Jumat, 03 Jul 2026, 20:40 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2026 mencerminkan kombinasi tekanan eksternal dan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap faktor domestik.
Di tengah ketidakpastian global, laporan MSCI yang menyoroti aspek tata kelola fiskal dan pasar modal Indonesia turut memperkuat sentimen negatif, sehingga memicu arus keluar modal dan menekan minat investor terhadap aset berisiko.
Kondisi ini menunjukkan bahwa menjaga stabilitas makroekonomi saja belum cukup, melainkan perlu diimbangi dengan penguatan kredibilitas kebijakan, transparansi, dan reformasi tata kelola untuk memulihkan kepercayaan pasar.
Hingga 3 Juli 2026, IHSG melemah 2.771,16 poin atau sekitar 32,05 persen dari akhir tahun lalu yang berada di level 8.646,94.
Seperti diketahui, IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (3/7) sore, ditutup menguat 131,22 poin atau 2,28 persen ke posisi 5.875,78 mengikuti penguatan bursa saham kawasan Asia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 16,29 poin atau 2,88 persen ke posisi 581,78.
"Jelang akhir pekan, sentimen global memberikan katalis positif terhadap menguatnya IHSG," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta.
Dari mancanegara, perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, yang mana pihak Qatar selaku mediator melaporkan adanya kemajuan positif mediasi damai antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran untuk mengakhiri konflik empat bulan terakhir.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan pembahasan memorandum gencatan senjata bulan Juni 2026 berjalan kondusif.
"Namun, pelaku pasar masih bersikap waspada karena belum ada kesepakatan tertulis yang menjamin perdamaian jangka panjang di kawasan tersebut," ujar Nico.
Selain itu, sentimen positif datang dari data pasar tenaga kerja AS yang melambat. Data nonfarm payrolls (NFP) AS periode Juni 2026 hanya bertambah 57.000 atau di bawah estimasi 110.000, sementara tingkat pengangguran di level 4,2 persen atau lebih rendah dari perkiraan 4,3 persen.
"Rilis data pasar tenaga kerja AS yang melambat memberikan pandangan baru pelaku pasar yang berspekulasi The Fed tidak akan menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat," ujar Nico.
Berdasarkan CME Fedwatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026 hanya sekitar 45,6 persen, dari sebelumnya 67 persen sebelum laporan ketenagakerjaan dirilis.
Dari dalam negeri, pemerintah bersama DPR telah menyepakati postur awal Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 sebagai dasar penyusunan Nota Keuangan dan RUU APBN 2027.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!