Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Hutan Sagu Papua Dinilai Potensial Dukung Swasembada dan Ketahanan Pangan.

📅 Selasa, 30 Jun 2026, 11:15 WIB | Oleh:

Ancaman terhadap keberlanjutan sagu di Papua tidak lagi sekadar persoalan lingkungan, tetapi telah menjadi persoalan identitas, budaya, dan masa depan pangan masyarakat. Untuk menjawab persoalan tersebut, maka perlu langkah bersama dari pemerintah, akademisi, masyarakat adat, dan seluruh pemangku kepentingan.

Karena itu, perlu adanya perlindungan kawasan hutan sagu dari alih fungsi lahan yang tidak terkendali, penguatan pendidikan budaya kepada generasi muda, serta pengakuan terhadap pengetahuan lokal masyarakat adat sebagai bagian dari warisan budaya yang harus dijaga.

Selain itu, sagu perlu ditempatkan kembali sebagai bagian penting dalam kebijakan ketahanan pangan Papua, sehingga tidak terus tergeser oleh pangan yang berasal dari luar daerah. Menjaga sagu bukan hanya menjaga sumber pangan masyarakat, tetapi juga menjaga ekosistem, hak-hak masyarakat adat, pengetahuan tradisional, serta identitas budaya Papua.

Antropolog dari Universitas Cenderawasih Abner Krey mengingatkan bahwa penurunan konsumsi sagu di Papua merupakan persoalan serius yang tidak hanya berkaitan dengan perubahan pola makan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan budaya, ekonomi masyarakat adat, dan ketahanan pangan daerah.

Seminar Sagu Papua 2026 yang diselenggarakan oleh satu yayasan bersama Polres Jayapura Kota menjadi ruang diskusi untuk mendorong kembali sagu sebagai pangan strategis masyarakat Papua di tengah perubahan sosial dan tantangan pangan global.

Masyarakat Papua, saat ini semakin mengalami pergeseran pola konsumsi dari pangan lokal berbasis sagu menuju pangan yang bergantung pada beras. Perubahan tersebut terjadi, terutama di wilayah perkotaan, di mana akses terhadap beras jauh lebih mudah dibandingkan dengan sagu.

Ketergantungan terhadap beras membuat Papua semakin rentan terhadap berbagai persoalan, mulai dari distribusi pangan, kenaikan harga, hingga gangguan pasokan akibat faktor ekonomi maupun kondisi geografis.

Papua memiliki karakter wilayah yang berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Banyak kampung dan komunitas adat yang masih bergantung pada sumber pangan dari alam. Dalam konteks tersebut, sagu memiliki nilai strategis karena mampu tumbuh secara alami dan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama ratusan tahun.

Papua dikenal sebagai salah satu wilayah dengan ekosistem sagu terbesar di dunia dan bagi masyarakat adat, hutan sagu bukan hanya kawasan produksi pangan, tetapi juga ruang hidup yang memiliki nilai budaya, ekonomi, dan sosial.

Kerusakan ekosistem sagu dapat berdampak langsung terhadap masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari proses pengolahan sagu, mulai dari penebangan pohon, pengolahan pati, hingga perdagangan hasil olahan.

Kondisi pangan dunia saat ini menunjukkan pentingnya kembali memperkuat pangan lokal. Ketergantungan terhadap satu jenis pangan, seperti beras, dapat menjadi risiko apabila terjadi gangguan distribusi maupun perubahan ekonomi, termasuk cuaca.

Karena itu, Papua perlu membangun konsep ketahanan pangan yang tidak hanya berbicara tentang ketersediaan makanan, tetapi juga mempertahankan sumber pangan yang sesuai dengan kondisi alam dan budaya masyarakat setempat. Pilihan paling tepat dan realistis adalah sagu.

Karena itu, ketahanan pangan Papua tidak bisa hanya diukur dari banyaknya beras yang masuk. Kita harus melihat apakah masyarakat masih memiliki akses terhadap pangan yang berasal dari lingkungan mereka sendiri.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
Perum Bulog Buka Akses Guda...

Kabar bagus, Mulai Banyak Warga Mengunjungi Museum

30 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Kabar bagus, Mulai Banyak W...

Perlindungan Wanita Harus Terus Ditingkatkan

38 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Perlindungan Wanita Harus T...

Gudang-gudang Milik Bulok Membuka Diri untuk Edukasi

43 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Gudang-gudang Milik Bulok M...

Perbanyak Pelatihan Seni dan Tari Guna Melestarikan Budaya

48 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Perbanyak Pelatihan Seni da...

Link Jakarta- Budapest Diharapkan Memperkuat Kerja Sama

52 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Link Jakarta- Budapest Diha...

Putri Pariwisata Alami Tindakan Kriminalitas

58 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Putri Pariwisata Alami Tind...
  • Event Jakarta Awal Juli 2026: Dari Jakarta X Beauty hingga Festival Budaya Minang
    Preview komentar:
    Nomor customer service BRI QLola 0821-7850-9155 Call Center Cs ...
    Pukblikasi
  • Perum Bulog Buka Akses Gudang untuk Jadi Sarana Edukasi Masyarakat
    Preview komentar:
    Pukblikasi
    Apakah BRI ada CS online? Call Center Cs QLola ...
  • Kabar bagus, Mulai Banyak Warga Mengunjungi Museum
    Preview komentar:
    Pukblikasi
    QLola Internet Banking BRI Call Center Cs QLola Bri ...
Selasa, Layanan SIM Keliling Hadir di Lima Lokasi, Buka Pukul 08.00-14.00

Selasa, Layanan SIM Keliling Hadir di Lima Lokasi, Buka Pukul 08.00-14.00

30 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.