Dosen ITB Dorong Guru dan Dosen Manfaatkan Media Sosial untuk Belajar
📅 Minggu, 27 Sep 2026, 10:40 WIB | Oleh: Paundra ZakirullohJAKARTA - Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus kreator konten pendidikan Imam Santoso mendorong guru dan dosen memanfaatkan media sosial untuk memperluas ruang belajar. Menurutnya, perkembangan teknologi membuka kesempatan bagi pendidik untuk menjangkau peserta didik lebih luas tanpa terbatas ruang dan waktu.
Hal itu disampaikan Imam di Panggung Inspiring Educator "Menjaga Masa Depan, Untuk Pertiwi" dalam rangkaian Inspiring Educators 2026 yang digelar ParagonCorp di Jakarta, Sabtu (26/9/2026). Ia menilai kehadiran pendidik di ruang digital penting karena generasi muda kini banyak mencari informasi dan membangun cara pandang melalui media sosial.
"Dulu, ketika belum ada media sosial, mungkin saya hanya bisa datang ke satu sekolah dan bertemu sepuluh anak. Sekarang, melalui media sosial, kita bisa mendidik dan memotivasi bukan hanya siswa di satu kelas, tetapi jutaan orang tanpa mengenal batas ruang dan waktu," kata Imam.
Imam mengatakan media sosial dapat menjadi sarana bagi guru dan dosen untuk memperluas jangkauan pembelajaran. Namun, penggunaan teknologi tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan proses belajar secara langsung yang tetap membutuhkan interaksi antara pendidik dan peserta didik.
"Kalau generasi muda sekarang banyak menghabiskan waktunya di ruang digital, maka pendidik juga perlu hadir di sana. Bukan untuk menggantikan ruang kelas, tetapi untuk memperluas ruang belajar," ujarnya.
Meski memiliki kemampuan menjangkau banyak orang, Imam menegaskan teknologi pada dasarnya tetap merupakan alat bantu dalam pendidikan. Peran pendidik tetap diperlukan untuk memberikan konteks terhadap informasi, membangun karakter, serta membantu generasi muda menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.
Menurut Imam, pendidik juga memiliki peran penting dalam membangun kembali kepercayaan diri peserta didik. Ia menilai dukungan seorang guru atau dosen tidak selalu harus berupa pujian atas kemampuan, tetapi bisa diberikan melalui kepercayaan bahwa peserta didik mampu melewati kesulitan yang dihadapinya.
"Kadang mahasiswa itu tidak perlu seseorang yang menceritakan kehebatan mereka. Mereka perlu seseorang yang percaya kepada mereka, sehingga rasa percaya dirinya kembali dengan sendirinya," tuturnya.
Imam kemudian membagikan pengalamannya ketika mendampingi Bagus, mahasiswa ITB yang sempat terancam tidak menyelesaikan pendidikan. Dengan pendampingan dan dukungan yang diberikan, mahasiswa tersebut akhirnya berhasil menuntaskan studinya.
Kisah tersebut sempat menjadi perhatian di media sosial dan menjadi salah satu contoh pentingnya kepercayaan dalam proses pendidikan. Bagi Imam, pengalaman itu menunjukkan bahwa dukungan pendidik dapat menjadi titik balik bagi peserta didik ketika mereka sedang menghadapi tantangan dalam menyelesaikan pendidikan.
Selain peran guru dan dosen, Imam menilai kemajuan pendidikan juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak secara berkelanjutan. Pemerintah, komunitas, dan sektor swasta dinilai memiliki peran masing-masing dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang dapat mendukung perkembangan peserta didik.
Ia juga menyoroti sejumlah program pendidikan yang dijalankan ParagonCorp, termasuk Wardah Inspiring Teacher (WIT) untuk guru, Inspiring Lecturer Program (ILP) untuk dosen, dan Paragon Scholarship Program (PSP) untuk mahasiswa. Menurut Imam, program tersebut menunjukkan adanya dukungan terhadap pendidik dan mahasiswa melalui pelatihan, pengembangan kapasitas, hingga pendampingan.
"Yang ingin saya soroti dari Paragon adalah kepeduliannya yang luar biasa, mulai dari Inspiring Lecturer Program untuk dosen, Wardah Inspiring Teacher untuk guru, sampai Paragon Scholarship Program, yang tidak hanya memberi beasiswa tapi mahasiswanya juga didampingi," ungkap Imam.
Inspiring Educators 2026 sekaligus menjadi rangkaian kelulusan WIT dan ILP 2026 yang meluluskan 5.000 guru dan 1.000 dosen. Sejak dimulai pada 2017, kedua program tersebut telah menjangkau lebih dari 43.000 pendidik yang tersebar di 38 provinsi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!