Ambisi Veda Ega Pratama Terus Menyala di Tengah Kurangnya Daya Saing Honda Team Asia
📅 Rabu, 24 Jun 2026, 06:43 WIB | Oleh: SriyonoVeda tidak menarik tuas rem ketika pembalap di depannya sudah melambatkan laju motor, yang menyebabkan motornya meluncur begitu kencang bak roket di tikungan untuk menyusul pembalap di depan. Dan teknik late brake itu ia gunakan pada dua tikungan terakhir berturut-turut.
Kemunculan Veda yang menusuk tiba-tiba dari belakang itu membuat Alvaro Carpe yang tadinya di urutan kelima harus menggeser sedikit posisi motornya agar tidak terjadi kontak. Veda berhasil menyalipnya. Namun Carpe memacu gas kuat-kuat di samping Veda, dan kalah 0,006 detik saat menyentuh garis finis.
Akhirnya Veda finis kelima. Hakim Danish, rival lamanya sejak Red Bull Rookies Cup yang start dari P14 akibat penalti serupa, menang.
Setelah evaluasi, Veda bicara kepada media. Dia mengakui Honda perlu peningkatan. Bukan keluhan, lebih ke observasi teknis dari seseorang yang paham betul perbedaan antara motor yang menuruti keinginan pembalap dan motor yang harus dikompromikan. Ia juga mengakui bahwa dirinya masih harus banyak belajar dan menimba pengalaman tentang bagaimana seharusnya mengontrol motor, ban, dan strategi menyerang khusus di lap terakhir.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di papan klasemen sementara, posisinya saat ini di peringkat keenam dengan 82 poin. Dia menjadi pembalap Honda tercepat di Moto3 2026.
Asa Indonesia
Jauh sebelum musim 2026 dimulai, Veda sudah mencuri perhatian internasional bahkan sebelum dia masuk di kelas Moto3. Pada gelaran acara jumpa pers Gresini Racing di Indonesia menjelang GP Mandalika 2025, Carlo Merlini, Marketing Director Gresini Racing, tim yang memperkenalkan motor Ducati pada Marc Marquez, menyatakan ketertarikannya pada Veda.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di acara yang sama, Alex Marquez, adik dari Marc Marquez, juga turut menyanjung performa Veda. Bukan basa-basi seorang bintang kepada fans lokalnya, melainkan penilaian dari pembalap yang hidupnya dihabiskan untuk membaca siapa yang berpotensi dan siapa yang tidak.
Sebagai seorang debutan, Veda memang mencuri perhatian. Dia finis di urutan kelima di balapan pertamanya pada ajang Moto3 di Buriram Thailand, trek yang belum pernah dijajal sebelumnya.
Satu seri kemudian, Veda kembali mencatat sejarah dengan menjadi pembalap Indonesia pertama yang naik podium di ajang Grand Prix setelah finis ketiga pada GP Brasil.
Tak hanya itu, di GP Spanyol di Jerez, ia juga menorehkan rekor baru dengan mencatat kecepatan puncak 222,2 km per jam, memecahkan rekor sepanjang masa Moto3 di sirkuit tersebut yang sebelumnya dipegang oleh Daniel Holgado.
Banyak yang menilai, Veda adalah potensi paling masuk akal agar Indonesia mencatatkan sejarah pertama kali mengirim wakilnya di ajang utama MotoGP. Rintangannya hanya tinggal waktu.
Dari ketahanan mental dan daya juang dari sembilan balapan Moto3 yang sudah dijalani Veda. Ditambah dengan nyali dan teknik luar biasa untuk melakukan late brake sekaligus mengontrol keseimbangan motor dengan sempurna, keahlian Veda sudah melampaui usia dan batasan motornya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!