Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

SDN Malabar II, SR Tertua Jawa Barat Di PTPN I Kebun Malabar

📅 Senin, 22 Jun 2026, 11:38 WIB | Oleh:
SDN Malabar II, SR Tertua Jawa Barat Di PTPN I Kebun Malabar Doc: Dok. Istimewa

PANGALENGAN — Di tengah hamparan hijau perbukitan teh Gunung Malabar, Kabupaten Bandung, berdiri sebuah monumen hidup pendidikan nasional yang kini dirawat di bawah naungan PT Perkebunan Nusantara I (Persero). 

Bangunan panggung ikonik yang dikenal sebagai SD Negeri Malabar II—dahulu bernama Vervoloog Malabar—bukan sekadar aset perkebunan, melainkan saksi bisu lahirnya embrio pendidikan rakyat yang telah bertahan selama lebih dari satu abad.

Didirikan pada tahun 1901 oleh sang pionir perkebunan, Karel Albert Rudolf (KAR) Bosscha, sekolah ini merupakan wujud kepedulian sosial untuk memberantas buta aksara di kalangan kaum pribumi. Pada era kolonial yang penuh batasan struktural, Bosscha mendobrak tradisi dengan memberikan akses pendidikan cuma-cuma bagi anak-anak karyawan dan buruh petik teh agar mereka mampu mengenyam pendidikan setara sekolah dasar.

Kini, sekolah itu menjadi SD Negeri Malabar II yang dikelola penuh oleh pemerintah. Meskipun sudah beralih rupa, tilas sejarah berdiri hingga peralihannya tetap terjaga. Beberapa foto yang menggambarkan aktivitas belajar siswa masa lampau tersimpan dan terpajang sebagai pengingat. Sejarah itu menjadi pemacu semangat semua warga sekolah untuk mewarisi sikap perjuangan dan prestasi.

PTPN I sebagai pewaris sejarah memang telah melepas aset monumental ini kepada pemerintah. Namun, dalam operasional di lapangan, aset yang berada dalam manajemen Regional 2 itu tetap dijaga dan dipertahankan nilai-nilai orisinalitasnya.

Aset-aset milik PTPN I (Persero) yang memiliki nilai sejarah bangsa sangat banyak. Sekolah atau sarana pendidikan menjadi aset sejarah yang yang cukup banyak selain pabrik-pabrik, rumah-rumah dinas, dan artefak lainnya. Semua aset tersebut terus dijaga dan dirawat dengan baik sebagai cermin moralitas spirit generasi masa depan.

Direktur Utama PTPN I (Persero), Teddy Yunirman Danas menegaskan komitmen menjaga warisan bersejarah ini sejalan dengan misi sosial berkelanjutan yang diemban oleh perusahaan hari ini.

"PTPN I hadir tidak hanya sebagai penggerak ekonomi wilayah, tetapi juga berkomitmen aktif dalam mencerdaskan generasi penerus, baik putra-putri karyawan maupun masyarakat di sekitar perkebunan. Ini adalah warisan moral yang menegaskan bahwa sejak dulu perusahaan peduli dengan pendidikan," kata Teddy dalam keterangan tertulisnya, Senin (22/6). 

Menurutnya, merawat SDN Malabar II adalah bentuk penghormatan terhadap akar sejarah sekaligus investasi jangka panjang bagi masa depan literasi bangsa. Nilai historis sekolah ini begitu membekas bagi para alumninya lintas generasi. Asep (85), seorang pensiunan karyawan pabrik teh Malabar, mengenang masa-masa sulit saat dirinya menimba ilmu di sekolah panggung tersebut pada era kolonial.

"Dulu saya sekolah di sana sekitar tahun 1950-an. Menurut orang-orang, Tuan Bosscha sangat berani membuka sekolah bagi kaum pribumi, khususnya wong cilik. Padahal saat itu pemerintah kolonial Belanda melarangnya. Saya sendiri tidak ketemu sama beliau," tutur Asep.

Cerita lain datang dari Maman (86) atau yang akrab disapa Abah Uci. Pria senja yang kini masih aktif bekerja sebagai penarik ojek pangkalan di kawasan Pintu Malabar ini merupakan alumnus yang merasakan atmosfer sekolah tersebut pasca-kemerdekaan RI. Di zamannya, masyarakat setempat lebih mengenal Vervoloog Malabar dengan sebutan Sekolah Rakyat (SR) Ciemas.

"Tahun 1958 abah sudah lulus dari SR Ciemas. Sekolah ini dulu dibangun oleh Bosscha. Kondisinya dulu mah bagus, terawat. Sekarang bangunan panggungnya terlihat kusam, sayang belum ada bantuan pemugaran apa pun dari pemerintah,” ungkap Abah Uci.

Ia menambahkan, pada masanya, SR Ciemas merupakan satu-satunya sentral pendidikan di Pangalengan, sehingga menjadi tempat berkumpulnya anak-anak dari berbagai pelosok wilayah tersebut untuk menuntut ilmu. Menariknya, pendidikan di sekolah ini telah mengalir di nadi keluarganya selama tiga generasi.

“Zaman abah masuk SR mah kan kita sudah merdeka. Tetapi orang tua hingga kakek abah dulu juga sekolahnya di sana. Setelah lulus, orang tua abah bekerja di rumah pegawai perkebunan yang orang Belanda," lanjutnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Poin-poin Penting dari Puta...
Megapolitan
Sebanyak 3.761 Personel Gab...
Pelari dari 17 Negara Ramaikan Mandiri Jogja Marathon 2026

Pelari dari 17 Negara Ramaikan Mandiri Jogja Marathon 2026

22 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
# 7
Momentum Perkuat Wisata Dalam Negeri
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.