Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Menantang Dogma, Metode Ilmiah yang Mengguncang Peradaban

📅 Rabu, 17 Jun 2026, 07:10 WIB | Oleh:
Menantang Dogma, Metode Ilmiah yang Mengguncang Peradaban Doc: NARINDER NANU / AFP
Ket. Seorang mahasiswa melihat melalui teleskop selama festival SCoPE for All (Science Communication Popularization and its Extension) di Universitas Guru Nanak Dev di Amritsar..

NAMUN, sekitar empat abad lalu, sebuah perubahan besar terjadi. Manusia mulai mengandalkan pengamatan, eksperimen, dan bukti untuk mencari jawaban. Dari perubahan cara berpikir inilah lahir metode ilmiah sebuah pendekatan yang kemudian menjadi fondasi hampir seluruh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

Hingga hari ini, metode ilmiah tetap menjadi mesin penggerak berbagai penemuan besar, mulai dari hukum-hukum fisika, vaksin penyelamat jutaan nyawa, hingga kecerdasan buatan yang kini mengubah berbagai aspek kehidupan manusia.

Ketika Bukti Menjadi Lebih Penting daripada Otoritas

Lahirnya metode ilmiah tidak dapat dipisahkan dari Revolusi Ilmiah yang berlangsung pada abad ke-16 hingga ke-17. Pada masa itu, sejumlah ilmuwan dan pemikir mulai mempertanyakan cara lama dalam memperoleh pengetahuan.

Sebelumnya, banyak pemahaman tentang alam didasarkan pada karya para filsuf kuno seperti Aristoteles. Pendapat mereka sering diterima sebagai kebenaran tanpa perlu diuji ­kembali.

“In questions of science, the authority of a thousand is not worth the humble reasoning of a single individual.” Artinya “Dalam persoalan sains, otoritas seribu orang tidak lebih berharga daripada penalaran sederhana dari satu orang yang didukung bukti,” kata ilmuwan Italia Galileo Galilei yang hidup di era lahirnya metode ilmiah.

Namun para ilmuwan pada masa Revolusi Ilmiah mulai menyadari bahwa alam semesta tidak selalu mengikuti apa yang tertulis dalam buku-buku lama. Mereka memilih untuk melihat sendiri, mengukur sendiri, dan menguji sendiri berbagai fenomena yang terjadi di sekitar mereka.

Perubahan cara berpikir ini tampak sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Untuk pertama kalinya, pengetahuan tidak lagi bergantung pada siapa yang mengatakannya, melainkan pada apakah klaim tersebut dapat dibuktikan melalui pengamatan dan eksperimen.

Semangat Menjelajahi ­Pengetahuan

Salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam perkembangan metode ilmiah adalah Francis Bacon, filsuf dan negarawan Inggris yang hidup pada akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17. Salah satu kalimatnya yang terkenal dalam bahasa Latin adalah “Ipsa scientia potestas est,” atau “Pengetahuan itu sendiri adalah kekuatan.”

Bacon percaya bahwa manusia tidak akan memperoleh pengetahuan yang benar hanya dengan berdebat atau mengandalkan teori semata. Menurutnya, alam harus dipelajari secara langsung melalui pengamatan yang sistematis dan pengumpulan data yang cermat.

“Man, being the servant and interpreter of Nature, can do and understand so much and so much only as he has observed in fact or in thought of the course of nature,” tulis Bacon dalam Novum Organum pada 1620. Bagi Bacon, manusia hanya dapat memahami alam sejauh ia mengamati dan mempelajarinya melalui pengalaman nyata.

Ia bahkan membandingkan ilmuwan dengan para penjelajah samudra. Jika Christopher Columbus dan Vasco da Gama berani mengarungi lautan untuk menemukan dunia baru, maka ilmuwan juga harus memiliki keberanian yang sama untuk menjelajahi wilayah pengetahuan yang belum dikenal.

Bagi Bacon, setiap kesimpulan harus dibangun dari fakta-fakta yang dapat diamati, bukan dari asumsi atau keyakinan yang diwariskan begitu saja. Gagasan inilah yang kemudian menjadi salah satu fondasi utama metode ilmiah modern.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Menkeu Purbaya Pastikan Tak Naikkan Tarif Pajak

40 menit yang lalu | Lili Lestari

Ekonomi
Menkeu Purbaya Pastikan Tak...
Indonesia Bisa Lolos Middle Income Trap, Berikut Kuncinya dari Pakar UI

Indonesia Bisa Lolos Middle Income Trap, Berikut Kuncinya dari Pakar UI

14 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.