Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

RDF Tak Akan Maksimal Jika Sampah Masih Tercampur, Pemilahan dari Rumah Jadi Kunci.

📅 Sabtu, 13 Jun 2026, 11:50 WIB | Oleh:
RDF Tak Akan Maksimal Jika Sampah Masih Tercampur, Pemilahan dari Rumah Jadi Kunci. Doc: Antara Foto
Ket. Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Nabilah Aboebakar Alhabsy (kanan) saat meninjau RDF Rorotan.

Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Nabilah Aboebakar Alhabsyi menegaskan bahwa keberhasilan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) tidak hanya bergantung pada mesin pengolah sampah, tetapi juga kesiapan sistem dari hulu hingga hilir.

"RDF hanya akan efektif jika masyarakat melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah. Kalau sampah masih tercampur, hasil pengolahan juga tidak akan optimal," kata Nabilah di Jakarta, Jumat.

Hal itu disampaikan Nabilah saat mengikuti tinjauan Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta ke fasilitas RDF Plant Rorotan.

Menurut dia, hingga saat ini RDF masih menghadapi berbagai tantangan, terutama kualitas sampah masuk yang belum sesuai standar akibat minimnya pemilahan dari sumber.

Ia menilai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta harus memperkuat edukasi dan kampanye pemilahan sampah secara masif di tingkat masyarakat.

Selain itu, pemerintah juga wajib menyiapkan sarana pendukung yang memadai, termasuk armada compactor dengan kapasitas besar, kondisi tertutup, tidak bocor, dan mampu menjaga kualitas sampah selama proses pengangkutan.

Menurut dia, salah satu persoalan yang selama ini terjadi adalah sampah yang telah dipilah di tingkat warga kembali tercampur saat proses pengangkutan karena keterbatasan sistem dan sarana pendukung.

"Kalau pemerintah meminta masyarakat memilah sampah, maka pemerintah juga harus memastikan sistem pengangkutannya mendukung. Jangan sampai masyarakat sudah disiplin memilah, tetapi akhirnya tercampur kembali di lapangan," katanya.

Selain aspek teknis, Nabilah juga menyoroti pentingnya kepastian pasar bagi produk RDF. Ia meminta Pemprov DKI tidak hanya bergantung pada satu perusahaan sebagai pengguna hasil RDF, melainkan mulai menyiapkan beberapa alternatif off-taker agar produk yang dihasilkan benar-benar terserap dan memiliki nilai ekonomi.

Ia menilai persoalan sampah Jakarta tidak dapat diselesaikan dengan satu pendekatan. Dibutuhkan integrasi antara perubahan perilaku masyarakat, kesiapan sarana-prasarana, teknologi pengolahan, dan kepastian pasar hasil pengolahan.

“Solusinya adalah membangun sistem yang utuh. Pilah sampah dari rumah, perkuat armada dan fasilitas pendukung, optimalkan RDF, serta pastikan hasilnya memiliki pasar yang jelas. Kalau salah satu mata rantai ini tidak berjalan, maka target pengurangan sampah Jakarta akan sulit tercapai,” kata Nabilah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

28 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

37 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.