Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bagaimana Mikroba di Usus Pengaruhi Kesehatan Mental?

📅 Rabu, 10 Jun 2026, 06:25 WIB | Oleh:
Bagaimana Mikroba di Usus Pengaruhi Kesehatan Mental? Doc: Foto : Wikimedia Commons
Ket. Ilustrasi Sistem pencernaan pada pria.

SELAMA ini kecemasan kerap dianggap sebagai persoalan yang sepenuhnya berpusat di otak. Namun, temuan terbaru dari para ilmuwan di Singapura menunjukkan bahwa jawaban atas salah satu masalah kesehatan mental paling umum di dunia mungkin justru bersembunyi di dalam usus.

Penelitian yang dilakukan Duke-NUS Medical School bersama National Neuroscience Institute of Singapore mengungkap hubungan yang mengejutkan antara mikroba usus dan perilaku yang berkaitan dengan kecemasan. Temuan tersebut membuka kemungkinan bahwa suatu hari nanti probiotik yang dirancang secara khusus dapat menjadi bagian dari terapi alami untuk membantu meredakan kecemasan.

Studi yang dipublikasikan dalam EMBO Molecular Medicine ini menyoroti peran senyawa bernama indol, molekul yang diproduksi oleh bakteri usus tertentu. Senyawa tersebut ternyata mampu memengaruhi aktivitas otak yang berkaitan dengan rasa takut, stres, dan keseimbangan emosi.

Penemuan ini semakin memperkuat pemahaman ilmiah mengenai poros usus-otak (gut-brain axis), sebuah sistem komunikasi dua arah yang menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak hanya ditentukan oleh kondisi otak, tetapi juga oleh komunitas mikroorganisme yang hidup di saluran pencernaan.

Kecemasan yang Kian Menjadi Tantangan

Gangguan kesehatan mental terus menjadi persoalan yang semakin nyata di berbagai negara. Di Singapura, studi nasional terbaru menunjukkan bahwa satu dari tujuh orang pernah mengalami gangguan kesehatan mental, termasuk depresi dan kecemasan. Pada 2019, gangguan kesehatan mental bahkan masuk dalam empat penyebab utama beban penyakit di negara tersebut.

Berangkat dari kondisi itu, para peneliti mencoba menjawab pertanyaan mendasar: apakah mikroba usus dapat memengaruhi perilaku cemas? Untuk mencari jawabannya, mereka melakukan percobaan pada tikus yang dibesarkan dalam lingkungan bebas kuman. Hewan-hewan tersebut dianggap tidak pernah terpapar mikroba hidup sebagaimana tikus pada umumnya.

Hasilnya cukup mencolok. Tikus bebas kuman menunjukkan perilaku yang jauh lebih cemas dibandingkan tikus dengan mikrobioma usus normal. Tak hanya perilakunya yang berbeda, aktivitas otak mereka juga berubah. Para peneliti menemukan peningkatan aktivitas pada amigdala basolateral (BLA), wilayah otak yang berperan penting dalam memproses rasa takut dan kecemasan.

Ketika Hilangnya Mikroba Mengubah Cara Kerja Otak

Analisis lebih lanjut menunjukkan adanya perubahan pada saluran protein khusus yang disebut saluran SK2 bergantung kalsium. Saluran ini berfungsi mengatur seberapa mudah neuron menjadi aktif dan mengirimkan sinyal.

Dalam kondisi normal, metabolit yang dihasilkan mikroba usus membantu saluran SK2 menjaga aktivitas neuron tetap terkendali. Namun ketika sinyal dari mikroba menghilang, neuron di wilayah amigdala basolateral menjadi lebih mudah terangsang. Kondisi inilah yang kemudian dikaitkan dengan munculnya perilaku cemas.

Profesor Madya Shawn Je dari Program Neurosains dan Gangguan Perilaku Duke-NUS yang juga menjadi salah satu penulis utama penelitian menjelaskan: Temuan mereka mengungkapkan proses saraf spesifik dan rumit yang menghubungkan mikroba dengan kesehatan mental.

“Mereka yang tidak memiliki mikroba hidup menunjukkan tingkat perilaku cemas yang lebih tinggi daripada mereka yang memiliki bakteri hidup. Pada dasarnya, kurangnya mikroba ini mengganggu cara kerja otak mereka, terutama di area yang mengontrol rasa takut dan kecemasan, yang menyebabkan perilaku cemas,” ucapnya dikutip dari SciTech Daily.

Molekul Kecil dengan Dampak Besar

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gunung Anak Krakatau Terus Erupsi, Jakarta Kena Sebaran Abu Vulkanik
    Sangat mungkin terjadi erupsi yg lebih besar, kemarin ...
  • Ditentang AS, PBB Adopsi Resolusi 'Koreksi Peta Dunia', Benua Afrika Ternyata 14 Kali Lebih Besar!
    Indonesia lebih besar dari Eropa. Jarak antara Sabang ...
  • Sapi Aceh Dibawa ke Pulau Terluar, Aceh Besar Bidik Ketahanan Pangan
    Kenapa harus ke pulau aceh pengembangan plasma nutfah ...
  • Aturan Insentif Motor Listrik Masih Digodok, Pemerintah Siapkan Rancangan Perpres
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai urgensi payung hukum ...
  • Magang Nasional 2026 Tahap II Dibuka, Anak Muda Berebut Kesempatan Masuk Industri
    Kesenjangan kompetensi yang menjadi latar belakang program Magang ...
Luar Negeri
Perusahaan Jerman Berhasil ...

Pembalap Asal Sleman Kiandra Ramadhipa Berakhir di Nomor 6

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Pembalap Asal Sleman Kiandr...
Luar Negeri
Argentina Ancam Sanksi Proy...

Utusan AS Berunding dengan Zelenskyy

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Utusan AS Berunding dengan ...
Megapolitan
Jadikan Jakarta Simpul Kopi...
Megapolitan
Dinas Kesehatan Tangerang S...
Advertisement
1.558 Penerbangan Terdampak Abu Vulkanik, 170.000 Penumpang Tertahan di Delapan Bandara

1.558 Penerbangan Terdampak Abu Vulkanik, 170.000 Penumpang Tertahan di Delapan Bandara

07 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.