Pertiwi, Saat Tiga Museum Pameran Bersama Menarik Minat Kaum Muda
📅 Selasa, 02 Jun 2026, 17:15 WIB | Oleh: SujarHal lain yang menarik dari Cross Musea Pertiwi adalah keberanian meninggalkan pola lama yang cenderung berjalan sendiri-sendiri.
Selama ini banyak museum bekerja dalam ruangnya masing-masing. Koleksi disimpan, dipamerkan, lalu menunggu pengunjung datang. Padahal, nilai sejarah dan budaya sering kali justru muncul ketika berbagai perspektif dipertemukan.
Kolaborasi antara museum di Surabaya, Sidoarjo, dan Yogyakarta menunjukkan bahwa sejarah Indonesia tidak dapat dibaca secara parsial. Setiap daerah menyimpan potongan cerita yang saling melengkapi.
Tema Pertiwi yang diangkat dalam pameran ini menjadi contoh menarik. Kehidupan manusia dipahami bukan hanya dari sudut pandang sejarah politik atau peristiwa besar, melainkan juga melalui tradisi, ritual, nilai sosial, dan budaya yang diwariskan lintas generasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pendekatan semacam ini penting karena masyarakat Indonesia sesungguhnya lebih dekat dengan sejarah keseharian dibanding sejarah yang hanya berisi nama tokoh dan tanggal peristiwa.
Anak muda mungkin tidak selalu tertarik menghafal kronologi sejarah. Namun mereka lebih mudah terhubung ketika sejarah hadir dalam bentuk cerita tentang keluarga, tradisi, identitas, dan pengalaman hidup yang masih relevan hingga saat ini.
Cross Musea Pertiwi menunjukkan bahwa museum dapat menjadi ruang yang menjembatani pengetahuan akademik dengan pengalaman publik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lebih jauh lagi, kolaborasi antarmuseum juga memiliki nilai strategis bagi pengembangan pariwisata budaya. Selama ini wisata perkotaan sering didominasi pusat perbelanjaan, kuliner, dan hiburan modern. Padahal, kota-kota besar membutuhkan ruang budaya yang mampu memperkaya pengalaman wisatawan.
Surabaya memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekosistem wisata sejarah yang lebih kuat. Museum Dr Soetomo, Tugu Pahlawan, kawasan Kota Lama, hingga sejumlah bangunan cagar budaya dapat dihubungkan dalam satu narasi yang utuh mengenai perjalanan bangsa.
Jika dikelola secara kreatif, museum tidak hanya menjadi aset budaya, tetapi juga penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata berkelanjutan.
Ingatan bertahan
Meski demikian, pameran, seperti Cross Musea Pertiwi, tidak boleh berhenti sebagai kegiatan musiman.
Tantangan sebenarnya muncul setelah pameran selesai. Pertanyaannya adalah apakah semangat kolaborasi, inovasi, dan keterlibatan publik itu dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang museum di Indonesia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!