Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Analisis Hitung-hitungan Finansial Tuan Rumah Piala Dunia 2026: Rugi atau Untung Besar?

📅 Rabu, 27 Mei 2026, 17:58 WIB | Oleh:
Analisis Hitung-hitungan Finansial Tuan Rumah Piala Dunia 2026: Rugi atau Untung Besar? Doc: Dok. Website FIFA
Ket. Trofi Piala Dunia 2026.

JAKARTA - Piala Dunia, selain menjadi salah satu turnamen olahraga terpopuler di bumi, juga merupakan yang termahal dengan miliaran dolar Amerika Serikat (AS) "terbakar" setiap pelaksanaannya.

Namun, dengan semua upaya yang dikeluarkan, satu pertanyaan selalu timbul di belakangnya. Secara ekonomi, apakah tuan rumah Piala Dunia mendapatkan keuntungan atau profit dari turnamen tersebut?

Untuk menjawab itu, tiga ekonom Jorge Viana, Antonio Barbosa, dan Breno Sampaio melakukan riset dan menuangkan hasilnya dalam artikel ilmiah "Does the World Cup get the economic ball rolling? Evindence from a synthetic control approach" yang dimuat di jurnal EconomiA (September-Desember 2018).

Menganalisis Piala Dunia dari tahun 1978 (Argentina) sampai 2006 (Prancis), Viana dan kawan-kawan menyimpulkan Piala Dunia tidak berefek bagus atau justru berdampak negatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita negara penyelenggara.

Artinya, Piala Dunia tidak menaikkan pendapatan rata-rata penduduk. Meski demikian, Viana dkk tidak memasukkan unsur citra negara dan dampak pariwisata Piala Dunia dalam penelitian mereka. Padahal itu bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan Piala Dunia.

Ambil contoh ketika Piala Dunia 2022 berlangsung di Qatar. Piala Dunia itu merupakan penyelenggaraan dengan modal termahal sepanjang sejarah, bahkan bila dibandingkan edisi 2026.

Dana Moneter Internasional (IMF) menyebut Qatar sebagai tuan rumah menginvestasikan 200 miliar-300 miliar dolar AS (sekitar Rp3.500 triliun) untuk mengubah dan memperbaiki tata kota mereka; meliputi perhotelan, transportasi bawah tanah, pelabuhan, jalur kereta api, pelabuhan, stadion serta bandar udara demi Piala Dunia.

Dengan modal yang sangat besar, Qatar tentu saja mencatatkan kerugian pada turnamen empat tahunan itu. Pemasukan bruto mereka dari sana cuma sekitar 1,6 miliar-2,4 miliar dolar AS atau setara 0,7-1,0 persen PDB mereka tahun 2022. Pendapatan itu utamanya datang dari pengeluaran pariwisata.

Sebaiknya Anda baca juga:

Walau terlihat sangat kecil dibandingkan modal mereka, Qatar merasakan efek jangka panjang dari turnamen tersebut.

Media ekonomi berbasis di Inggris, The Banker, melaporkan bahwa setelah Piala Dunia 2022, Qatar merasakan pertumbuhan tertinggi untuk kunjungan wisatawan dalam rentang 10 tahun.

Jumlah kedatangan turis di Qatar pada Januari-Februari 2023 (sebulan seusai Piala Dunia di sana) jika digabung naik 347 persen year on year.

Sebagai catatan, cuma di Piala Dunia 2022 pada November-Desember, Qatar kedatangan 3,4 juta penggemar sepak bola dari seluruh dunia.

Kondisi tersebut, menurut firma konsultan asal Mesir LOGIC, membuat Qatar mengeruk keuntungan citra positif.

Infrastruktur baru yang hadir berkat Piala Dunia 2022 juga menaikkan nama Qatar di mata para investor. Lapangan kerja pun semakin banyak terbuka.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
BMKG Prakirakan Jakarta Ber...

Gelombang Panas Eropa: Menara Eiffel Ditutup Sementara

35 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Gelombang Panas Eropa: Mena...

Aksi Jual Saham AI AS Mengguncang Wall Street Gingga Asia

52 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Aksi Jual Saham AI AS Mengg...
Megapolitan
Penataan Ruang Publik Menya...
Daerah
Peringatan Hari Keamanan Pa...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.