Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tulus Abadi Ungkap Belanja Rokok Jadi Pemicu Kemiskinan Keluarga.

📅 Minggu, 24 Mei 2026, 12:07 WIB | Oleh:
Tulus Abadi Ungkap Belanja Rokok Jadi Pemicu Kemiskinan Keluarga. Doc: Antara Foto
Ket. Sekjen Komnas Pengendalian Tembakau, Tulus Abadi menyebut belanja rokok pemicu kemiskinan rumah tangga di Indonesia.

Sekretaris Jenderal Komnas Pengendalian Tembakau Tulus Abadi mengatakan belanja rokok menjadi salah satu pemicu kemiskinan rumah tangga di Indonesia.

"Pengeluaran untuk rokok sering kali lebih tinggi dibanding kebutuhan pangan bergizi, seperti telur, susu, buah, dan sayur," kata Tulus Abadi pada Lokakarya "Di Balik Layar Cukai" yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, Sabtu.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipaparkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan pengeluaran rumah tangga untuk rokok kretek filter di perkotaan mencapai 11,30 persen dari total pengeluaran per kapita. Kondisi tersebut jauh lebih tinggi dibanding belanja telur ayam ras yang hanya 4,30 persen.

Sementara di pedesaan, pengeluaran untuk rokok mencapai 10,78 persen, sedangkan telur ayam ras hanya 3,69 persen.

Menurut dia, kondisi tersebut dinilai memperburuk kesejahteraan kelompok rentan dan berkontribusi terhadap turunnya kelas menengah di Indonesia. Tingginya pengeluaran rumah tangga untuk rokok disebut mengurangi kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar, termasuk pangan bergizi, pendidikan, dan kesehatan.

“Pengendalian konsumsi rokok harus menjadi prioritas utama, karena dampaknya sangat luas, bukan hanya pada kesehatan tetapi juga ekonomi dan kualitas sumber daya manusia,” ujar Tulus Abadi.

Selain itu dia juga menyoroti kebijakan cukai rokok 2026 yang dinilai masih memunculkan pertanyaan apakah benar untuk pengendalian konsumsi atau justru kompromi terhadap kepentingan industri.

Materi yang dipresentasikan menunjukkan konsumsi rokok berdampak multisektoral. Dari sisi kesehatan, nikotin pada rokok dan vape disebut dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otak anak dan remaja yang masih dalam masa pertumbuhan.

Sementara itu rokok juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit kronis seperti kanker, stroke, penyakit jantung, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) hingga diabetes.

Paparan asap rokok pada anak juga disebut meningkatkan risiko stunting lebih tinggi dibanding anak dari keluarga non-perokok.

Dalam paparan pada lokarya tersebut juga disebutkan kerugian ekonomi akibat konsumsi rokok mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun, termasuk beban pembiayaan kesehatan yang sebagian besar ditanggung negara melalui layanan kesehatan nasional.

Fenomena tingginya belanja rokok juga tercermin dalam data pengeluaran masyarakat. Sejumlah laporan BPS menunjukkan rokok dan tembakau masih menjadi salah satu komponen pengeluaran terbesar rumah tangga Indonesia, bahkan melampaui sejumlah kebutuhan pangan bergizi seperti ikan, telur dan susu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.