Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Berangkat Haji Tanpa Kelompok Bimbingan, Sejumlah Jamaah Andalkan Video Sederhana dan Gotong Royong

📅 Senin, 18 Mei 2026, 11:55 WIB | Oleh: Tim Penulis

Cerita lain datang dari E.A.A. Nurhayati Haddjad. Dosen asal Sumenep itu berangkat haji menggantikan almarhum ayahnya. Porsi haji keluarga yang awalnya bukan untuk dirinya dilimpahkan setelah sang ayah wafat.

Di tengah kesibukan mengajar dan merawat ibunya yang sakit stroke, Nurhayati tetap menyiapkan diri secara perlahan. Ia rutin berjalan kaki di sekitar desa dan taman kota untuk melatih stamina sebelum berangkat.

“Kadang jalan sambil lihat sawah atau ladang saja,” katanya sambil tertawa kecil.

Selain menjaga fisik, ia juga aktif belajar lewat media sosial dan grup jamaah. Menurutnya, informasi digital justru sangat membantu jamaah mandiri memahami situasi terbaru di Arab Saudi.

Namun yang paling ia ingat justru suasana kebersamaan di antara sesama jemaah. Pada malam hari, ia sering membantu anggota rombongan lain mengisi identitas atau membaca dokumen perjalanan.

“Dari situ malah jadi dekat satu sama lain,” ujarnya.

Kekompakan para jamaah mandiri SUB 77 memang tidak muncul begitu saja. Ketua Kloter SUB 77, Asnawi, mengatakan bahwa pihaknya sejak awal sadar bahwa mendampingi jamaah tanpa KBIHU membutuhkan pola pendekatan berbeda. Apalagi, lebih dari separuh jemaah dalam kloter tersebut merupakan lansia.

“Ini tantangan besar karena mereka menggantungkan diri pada petugas kloter,” kata Asnawi.

Karena itu, sebelum keberangkatan, petugas kloter lebih dulu membangun kekompakan internal. Setelah itu, mereka mengumpulkan para ketua regu dan ketua rombongan untuk menyamakan persepsi.

Asnawi lalu menanamkan satu gagasan sederhana: setiap ketua rombongan adalah “kiai” bagi kelompoknya masing-masing. “Ketika merasa punya tanggung jawab moral, mereka jadi lebih serius belajar dan mendampingi jemaah,” ujarnya.

Pendekatan itu diperkuat dengan kunjungan rutin ke desa-desa dan wilayah kepulauan di Sumenep selama dua hingga tiga bulan sebelum keberangkatan. Petugas datang langsung memberi penjelasan tambahan, membantu simulasi manasik, serta membangun kedekatan emosional dengan jemaah.

Hasilnya mulai terlihat setibanya mereka di Makkah. Para jamaah bergerak lebih tertib dan saling menjaga satu sama lain.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Tangerang Diminta Eksploras...
Luar Negeri
AS dan Jepang Bahu-membahu ...

Obligasi Daerah Jangan Jadi Beban

17 menit yang lalu | Lukman

Nasional
Obligasi Daerah Jangan Jadi...
Luar Negeri
Pentagon Jadwalkan Jet Temp...

Gawat Terus Bertambah! Jumlah Migran Tewas Saat Masuki Ceuta dari Maroko Capai 90 Orang

Gawat Terus Bertambah! Jumlah Migran Tewas Saat Masuki Ceuta dari Maroko Capai 90 Orang

02 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.