Berangkat Haji Tanpa Kelompok Bimbingan, Sejumlah Jamaah Andalkan Video Sederhana dan Gotong Royong
📅 Senin, 18 Mei 2026, 11:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Kemenhaj
Moh Kamil, jamaah calon haji asal Sumenep, Jawa Timur berbagi cerita tentang bagaimana ia berangkat haji tanpa pendamping dari KBIHU (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah).
Kepada tim Media Center Haji (MCH), ia bercerita, di usianya yang belum genap 30 tahun, ia memikul tanggung jawab besar sebagai ketua rombongan bagi 43 jamaah haji mandiri asal Sumenep, Jawa Timur, yang tergabung dalam Embarkasi Surabaya Kelompok Terbang (Kloter) 77, atau SUB 77.
“Awalnya saya juga berpikir mungkin lebih aman kalau ada pendamping dari KBIHU (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah). Tapi setelah bertemu petugas-petugas kloter, kami merasa cukup didampingi,” katanya di Makkah, Kamis (14/5), seperti dikisahkan di situs web Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Pilihan berhaji mandiri itu tidak datang tiba-tiba. Sebelum berangkat, ia memperkuat bekal manasik dengan kembali belajar pada guru-gurunya di pesantren. Meski tidak mondok penuh, ia sejak kecil tetap mengikuti pengajian dan madrasah diniyah di kampungnya.
Bekal itulah yang kini ia gunakan untuk membantu jamaah lain memahami alur ibadah haji. Tantangan terbesar justru muncul dari perbedaan kemampuan para jemaah dalam menerima informasi, terutama para lansia yang belum terbiasa menggunakan teknologi.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kalau dijelaskan lewat tulisan panjang, banyak yang kesulitan memahami. Akhirnya kami buat video-video sederhana,” ujarnya.
Video itu dibuat dengan bahasa campuran Indonesia dan Madura. Isinya praktis: cara memakai lift hotel, mempersiapkan koper, mengenali jalur menuju Masjidil Haram, serta penggunaan fasilitas selama di Arab Saudi.
Cara sederhana tersebut terbukti membantu para lansia lebih cepat memahami situasi. Kamil mengatakan, sebagian jemaah bahkan masih kesulitan menggunakan aplikasi pesan singkat atau melakukan panggilan video.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Makanya harus dicari cara yang paling mudah dipahami,” ucapnya.
Di rombongan yang sama, Suwaris Bahir juga merasa mantap memilih jalur mandiri sejak awal. Lelaki yang sehari-hari bekerja di bidang perikanan itu mengaku tidak pernah benar-benar khawatir menjalani haji tanpa KBIHU.
Baginya, manasik yang diberikan pemerintah sudah cukup detail untuk menjadi bekal ibadah. “Mulai dari naik pesawat, fasilitas hotel, sampai jalur masuk Masjidil Haram dijelaskan,” ujarnya di kesempatan yang sama.
Suwaris mengikuti manasik berkali-kali, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten. Dari situ, ia merasa jamaah awam seperti dirinya benar-benar diarahkan secara bertahap. Bahkan, menurutnya, petugas kloter juga aktif mendampingi jemaah selama berada di Tanah Suci.
“Setiap perjalanan ibadah itu selalu ada yang mendampingi,” katanya.
Ia mengaku lebih nyaman menjalani ibadah secara mandiri karena tidak terlalu terikat aturan tambahan. Selain lebih fleksibel, jalur mandiri juga dianggapnya lebih ringan secara biaya. “Kalau saya pribadi, pelayanannya lebih daripada cukup,” ucapnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!