Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Indosat Business Soroti Rendahnya Kesiapan Siber Perusahaan di Era AI

📅 Selasa, 12 Mei 2026, 12:11 WIB | Oleh:
Indosat Business Soroti Rendahnya Kesiapan Siber Perusahaan di Era AI Doc: Koran Jakarta - Haryo Brono
Ket. Charles Lim, Deputy Head of Master IT Program Swiss German University (tengah) dalam acara Media Update B2B Strategis Ketahanan Siber Berbasis Bisnis yang diselenggarakan Indosat Business di Jakarta pada hari Senin (11/5).

JAKARTA - Indonesia tengah memasuki babak baru transformasi ekonomi digital. Dalam beberapa tahun terakhir, percepatan adopsi teknologi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), cloud computing, Internet of Things (IoT), big data, hingga sistem digital lintas industri telah mengubah cara perusahaan menjalankan bisnis dan melayani pelanggan.

Nilai ekonomi digital Indonesia bahkan diproyeksikan mencapai USD 340 miliar pada 2030. Pertumbuhan tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar digital terbesar di kawasan Asia Tenggara. Namun di balik pertumbuhan yang pesat itu, ancaman keamanan siber juga berkembang semakin kompleks dan agresif.

Transformasi digital yang semakin luas membuat permukaan serangan siber atau attack surface perusahaan ikut membesar. Organisasi kini tidak hanya menghadapi ancaman malware konvensional, tetapi juga serangan yang memanfaatkan AI, deepfake, pencurian identitas digital, hingga ransomware dengan pola serangan yang semakin sulit dideteksi.

Melihat kondisi tersebut, Indosat Ooredoo Hutchison melalui unit Indosat Business mendorong perusahaan di Indonesia untuk mulai membangun pendekatan ketahanan siber yang lebih strategis, adaptif, dan terintegrasi sebagai bagian dari transformasi digital jangka panjang.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Indosat Business meluncurkan whitepaper bertajuk A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience bersama pakar keamanan siber Charles Lim. Dokumen tersebut mengangkat fenomena yang disebut sebagai “resilience gap”, yaitu kondisi ketika laju transformasi digital berlangsung jauh lebih cepat dibanding kesiapan organisasi dalam membangun ketahanan siber.

Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Buldansyah, mengatakan perusahaan saat ini membutuhkan lebih dari sekadar infrastruktur teknologi dan konektivitas digital. Organisasi juga perlu memiliki kemampuan untuk menjaga keberlangsungan operasional di tengah ancaman siber yang terus berkembang.

Menurut dia, cyber resilience kini bukan lagi sekadar isu teknis yang menjadi tanggung jawab divisi teknologi informasi, tetapi telah menjadi bagian penting dari keberlangsungan bisnis dan kepercayaan pelanggan.

“Indonesia sedang memasuki fase baru ekonomi digital, namun pertumbuhan digital juga harus diiringi dengan ketahanan siber yang memadai. Hari ini, cyber resilience bukan lagi isu teknologi semata, tetapi fondasi kepercayaan dan keberlangsungan bisnis,” ujarnya dalam acara Media Update B2B Strategis Ketahanan Siber Berbasis Bisnis di Jakarta pada hari Senin (11/5).

Ia menambahkan, sebagai perusahaan yang mendampingi transformasi digital enterprise di berbagai sektor industri, Indosat Business melihat kebutuhan akan pendekatan keamanan siber yang lebih strategis dan adaptif semakin mendesak.

Karena itu, perusahaan menggandeng Charles Lim yang dinilai memiliki pengalaman panjang di bidang keamanan siber untuk memberikan perspektif yang lebih komprehensif mengenai tantangan cyber resilience di Indonesia.

Charles Lim yang juga menjabat sebagai Deputy Head of Master IT Program Swiss German University mengatakan lanskap ancaman siber saat ini berkembang sangat cepat, terutama sejak teknologi AI mulai digunakan secara luas.

Menurut dia, AI tidak hanya dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi bisnis, tetapi juga mulai digunakan pelaku kejahatan siber untuk menjalankan berbagai modus penipuan digital dengan tingkat kecanggihan yang lebih tinggi.

“Ancaman siber berkembang jauh lebih cepat dan semakin sulit dideteksi, terutama dengan munculnya AI-enabled fraud dan deepfake. Organisasi perlu beralih dari pendekatan yang reaktif menuju cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” kata Charles.

Whitepaper tersebut mencatat peningkatan AI-related fraud hingga 1.550 persen di sektor fintech Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bagaimana teknologi AI mulai dimanfaatkan dalam berbagai skema penipuan digital berbasis identitas.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.