Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Jangan Mudah Puas, Pertumbuhan 5,61% Baru Modal Awal Jaga Target Tahunan

📅 Rabu, 06 Mei 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Dia pun mengaku akan terus memantau pergerakan atas aktivitas ekonomi dan siap mengambil langkah intervensi agar pertumbuhan tetap terjaga. “Jangan khawatir, saya akan monitor terus data setiap hari. Pemerintah nggak takut dan ragu berinvestasi untuk menjaga laju ekonomi yang lebih cepat,” kata Menkeu.

Dalam kesempatan terpisah, Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyebut ada sejumlah anomali dalam data BPS terutama pertumbuhan ekonomi 5,61 persen yang dinilai “sangat tinggi”, tertinggi sejak 2012.

Anomali pertama kata Nailul adalah konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52 persen, naik dari 4,96 persen pada periode sama tahun lalu. Padahal Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia justru turun, dari 127,0 basis poin pada Januari 2026 menjadi 122,9 basis poin di Maret 2026.

“Biasanya, IKK ini mencerminkan pergerakan konsumsi rumah tangga, namun menurut data BPS, ternyata tidak,” kata Nailul.

Kedua, anomali konsumsi transportasi dan komunikasi. Komponen itu tumbuh 6,91 persen di Q1, lebih tinggi dari empat kuartal sebelumnya tahun 2025, namun sektor jasanya justru melemah. Jasa transportasi dan pergudangan hanya tumbuh 8,04 persen, lebih rendah dari Kuartal I-IV 2025. Jasa informasi dan komunikasi juga melambat. “Anomali di sektor ini sangat terasa ketika konsumsi kita tidak ditopang oleh jasa terkait,” kata Nailul.

Ketiga, anomali PMTB sub kendaraan. PMTB sub kendaraan melonjak 12,39 persen, namun industri alat angkutan justru terkontraksi -5,02 persen. Nailul menduga lonjakan PMTB kendaraan disumbang impor untuk keperluan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

“Pada akhirnya, impor KDKMP ini jadi justifikasi PMTB Kendaraan mengalami pertumbuhan yang luar biasa tinggi, tapi industrinya letoy,” ujarnya.

Terakhir, anomali industri pengolahan yang tumbuh 5,04 persen, melambat dibanding tiga kuartal sebelumnya. Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur Indonesia juga turun pada Maret 2026 dibanding Februari. PMI sempat naik di Februari karena stok jelang Lebaran, lalu turun lagi. April 2026 PMI manufaktur sudah di bawah level ekspansi. Industri tembakau, karet dan plastik, serta otomotif mengalami kontraksi.

Sementara industri makanan dan minuman tumbuh 7,04 persen, diduga terdorong program Makan Bergizi Gratis (MBG). “Jika benar, maka perlu dipertanyakan bagaimana kontribusi dari UMKM jika industri makanan dan minuman yang mendapatkan manfaat besar dari program MBG,” kata Nailul.

Ia pun mempertanyakan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi di tengah perlambatan industri pengolahan yang berkontribusi 19 persen ke PDB. “Jadi, sekali lagi BPS menunjukkan data yang disampaikan tidak kredibel, hanya ingin membuat Presiden senang, tapi tidak melaporkan apa yang benar-benar terjadi di masyarakat,” pungkas Nailul.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Daerah
Produk UMKM Dipromosikan Le...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.