Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Jangan Mudah Puas, Pertumbuhan 5,61% Baru Modal Awal Jaga Target Tahunan

📅 Rabu, 06 Mei 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Jangan Mudah Puas, Pertumbuhan 5,61% Baru Modal Awal Jaga Target Tahunan Doc: istimewa
Ket. Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan angka yang disampaikan BPS memang terlihat kuat, bahkan di atas ekspektasi.

JAKARTA - Pemerintah diminta tidak mudah puas dengan kinerja perekonomian nasional yang tumbuh 5,61 persen pada triwulan I (Q1)-2026. Sebab, pencapaian tersebut hanya sebagai modal awal positif untuk menjaga momentum, dengan penguatan investasi dan aktivitas ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan angka yang disampaikan BPS memang terlihat kuat, bahkan di atas ekspektasi. Kendati demikian, jika dilihat lebih dalam, terdapat beberapa faktor yang bersifat sementara dan terkonsentrasi pada awal tahun.

Misalnya, Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah yang jatuh penuh di triwulan I, sehingga dorongan konsumsi langsung terpusat pada periode tersebut. Selain itu, belanja pemerintah yang cukup kuat di awal tahun serta basis perbandingan tahun lalu yang relatif rendah turut menopang capaian pertumbuhan tersebut.

“Jadi wajar kalau angkanya terlihat tinggi, untuk keberlanjutan kita perlu sedikit lebih hati-hati. Apalagi secara kuartalan sebenarnya ekonomi sempat terkontraksi. Itu sinyal bahwa momentumnya tidak sekuat yang terlihat di angka tahunan,” papar Rendy.

Tantangan ke depan jelasnya perlu diantisipasi, terutama dari tekanan eksternal seperti harga energi global dan nilai tukar yang masih lemah. Jika kondisi tersebut berlanjut, dampaknya dapat mempengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan. Capaian pada triwulan I-2026 jelasnya sebagai modal awal yang baik untuk menjaga pertumbuhan dalam kisaran target tahunan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (5/5) mengatakan pertumbuhan 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan I- 2026 dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang utama dengan kontribusi 2,94 persen.

“Selain itu juga ditopang komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi dengan kontribusi 1,79 persen, sementara konsumsi pemerintah 1,26 persen,” kata Amalia.

Adapun konsumsi rumah tangga terutama didorong mobilitas penduduk pada momen libur nasional dan hari besar keagamaan seperti Nyepi dan Idul Fitri. Selain itu, berbagai kebijakan pengendalian inflasi serta stimulus yang digelontorkan pemerintah turut mendorong konsumsi, antara lain diskon tiket transportasi, pemberian THR atau gaji ke-14, serta penetapan BI rate pada level 4,75 persen.

Berdasarkan data BPS, pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertinggi terjadi pada kelompok pengeluaran restoran dan hotel yang tumbuh 7,38 persen, seiring meningkatnya kegiatan wisata selama periode liburan.

Lepas dari Kutukan

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan kinerja ekonomi triwulan pertama itu membuat Indonesia keluar dari jebakan pertumbuhan 5 persen. Pencapaian itu jelas Menkeu menunjukkan perekonomian Indonesia mampu bergerak ke arah yang lebih tinggi di tengah tekanan ketidakpastian global.

“Kita masih bisa tumbuh sesuai dengan target 5,61 persen. Dan dibandingkan triwulan IV tahun lalu, pertumbuhannya lebih cepat dari 5,39 persen ke 5,61 persen. Ini menunjukkan kita bisa terlepas dari kutukan pertumbuhan 5 persen,” ungkap Purbaya.

Pencapaian tersebut paparnya menunjukkan langkah reformasi yang diambil pemerintah memberikan dampak positif terhadap perekonomian. Kendati demikian, Menkeu tidak menampik kalau perekonomian nasional ke depan masih menghadapi tantangan karena gejolak geopolitik global yang belum melandai.

Untuk memitigasi risiko tersebut, Menkeu berfokus pada upaya memperbaiki kinerja domestik melalui dorongan terhadap berbagai mesin pertumbuhan ekonomi, misalnya memberikan dukungan kepada perusahaan berorientasi ekspor agar mereka lebih kompetitif di pasar global.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pria tanpa identitas Tewas Tersengat Listrik saat Curi Kabel LRT
    Wajar sih kalau mati, justru aneh klo tidak ...
  • Meski Melambat, Industri Tetap Ekspansi! Kemenperin: Ini 2 Sektor Paling Moncer
    Meskipun data Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus 2026 ...
  • Kawasan Industri Tak Lagi Kompetitif, Investor Mulai Melirik Vietnam
    Meskipun banyak pabrik di Indonesia kini mulai beralih ...
  • Mesin Produksi Kembali Panas! BI Sebut Industri Pengolahan Tumbuh di Awal 2026
    Sebagai seseorang yang rutin mengikuti perkembangan sektor pengolahan, ...
  • Badan Pusat Statistik: Harga Beras Premium dan Medium Kompak Naik pada Agustus
    Informasi yang sangat komprehensif terkait laporan BPS bulan ...
Luar Negeri
Putin dan Xi Bahas Ketidakp...
Luar Negeri
Pertemuan Trump-Kim Bisa Te...
Luar Negeri
AS Usik Inggris Terkait Kep...
Advertisement
Karhutla Sumatra-Kalimantan Membara, Prabowo Panggil Panglima TNI dan Kapolri Malam-Malam Gelar Rapat Darurat

Karhutla Sumatra-Kalimantan Membara, Prabowo Panggil Panglima TNI dan Kapolri Malam-Malam Gelar Rapat Darurat

02 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.