Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

DPR Soroti Rencana Pemerintah untuk Naikkan HET MinyaKita

📅 Rabu, 06 Mei 2026, 17:42 WIB | Oleh:
DPR Soroti Rencana Pemerintah untuk Naikkan HET MinyaKita Doc: RRI Semarang/Roy Kusuma

JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR RI, Nasim Khan menyoroti, rencana pemerintah menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) MinyaKita. Politikus PKB ini mengingatkan, kenaikan HET MinyaKita berisiko memicu lonjakan harga di tingkat konsumen yang melampaui batas kewajaran.

Saat ini, kata Nasim, harga MinyaKita di berbagai daerah sudah jauh melampaui HET. Dimana HET MinyaKita yang saat ini ditetapkan sebesar Rp15.700 per liter.

"Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok per 4 Mei 2026, harga rata-rata nasional menyentuh Rp15.915 per-liter. Ini menunjukkan bahwa dengan HET saat ini saja, harga di pasaran sudah melampaui batas," kata Nasim dalam keterangan persnya, di Jakarta, Rabu (6/5).

Bahkan di Pekanbaru, Nasim mengungkapkan, harga MinyaKita sudah menembus Rp20 ribu per liter. Lalu, di Cirebon mencapai Rp21 ribu per liter.

"Jika HET dinaikkan tanpa pengawasan, dikhawatirkan harga akan semakin tidak terkendali. MinyaKita sejatinya untuk membantu rakyat kecil mendapatkan harga terjangkau," ucap Nasim.

Ke depannya, ia mendorong, pemerintah menjamin kelancaran distribusi dan menindak tegas oknum yang melakukan penimbunan. Penimbunan MinyaKita, dinilainya hanya akan memperparah kelangkaan dan mendorong harga semakin melambung tinggi.

"Jangan sampai ada pihak yang menimbun demi keuntungan pribadi, praktik ini sangat merugikan masyarakat. Pemerintah harus hadir melakukan pengawasan lapangan secara langsung," ujar Nasim.

Sebelumnya diberitakan, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso membuka peluang penyesuaian HET MinyaKita seiring kenaikan biaya produksi. Ia menegaskan, rencana tersebut tidak terkait dengan kebijakan biodiesel B50 yang tengah disiapkan pemerintah.

Menurut dia, perubahan HET semata didorong oleh faktor ekonomi. Terutama lonjakan harga bahan baku crude palm oil (CPO) serta peningkatan biaya produksi.

Dia menyebut, kondisi tersebut membuat harga acuan yang berlaku sejak 2024 perlu dievaluasi. "Enggak ada sama sekali, ini kan faktor karena harga CPO naik, biaya produksi naik, jadi kami harus menyesuaikan semua,” kata Budi di Jakarta, Minggu (3/5).

Kendati demikian, Budi menegaskan pemerintah belum mengambil keputusan final. Saat ini, pembahasan terkait penyesuaian HET masih berlangsung di internal pemerintah. ils/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Mobil Tabrak Kerumunan Oran...

Prosesi adat kansoda'a di Wakatobi

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Wisata
Prosesi adat kansoda'a di W...
Ekonomi
Neraca perdagangan Indonesi...
Nasional
Presiden Prabowo lantik Wan...
Olahraga
Fitriani/Fadona melaju ke f...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.