Data Terbaru BPS DKI Jakarta: Proporsi Pekerja Informal Naik Jadi 38,13 Persen
📅 Rabu, 06 Mei 2026, 18:10 WIB | Oleh: Paundra ZakirullohJAKARTA - Dinamika pasar kerja di wilayah DKI Jakarta menunjukkan tren yang cukup menarik sekaligus menantang pada awal tahun 2026 ini. Berdasarkan laporan terbaru, terjadi pergeseran signifikan di mana jumlah pekerja di sektor formal mulai mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi ini tercermin dari data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta mengenai keadaan ketenagakerjaan per Februari 2026. Penurunan proporsi pekerja formal ini menjadi sinyal penting bagi para pemangku kebijakan dan pengamat ekonomi di ibu kota.
Proporsi penduduk yang bekerja pada kegiatan formal di Jakarta tercatat sebesar 61,87 persen pada periode survei kali ini. Angka tersebut menunjukkan adanya penurunan sebesar 0,18 persen poin jika dibandingkan dengan kondisi pada Februari 2025 lalu.
Sebaliknya, sektor informal justru menunjukkan geliat yang lebih besar dengan menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang terus merangkak naik. Saat ini, proporsi pekerja informal di Jakarta telah mencapai angka 38,13 persen dari total penduduk yang bekerja.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa lapangan kerja di sektor kantoran atau perusahaan berskala besar sedang mengalami kejenuhan atau restrukturisasi. Banyak warga akhirnya beralih untuk menciptakan peluang sendiri melalui berbagai jenis usaha kecil atau jasa mandiri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Peningkatan status pekerja informal ini didominasi oleh kategori penduduk yang berstatus sebagai pekerja mandiri atau berusaha sendiri. Kelompok ini mengalami kenaikan sebesar 0,12 persen poin dalam kurun waktu satu tahun terakhir di Jakarta.
Meskipun angka pengangguran secara umum mengalami penurunan, pergeseran ke arah informalitas ini tetap perlu mendapatkan perhatian yang serius. Pekerjaan di sektor informal seringkali dianggap memiliki jaminan kesejahteraan yang tidak sekuat pekerjaan di sektor formal.
Kualitas lapangan kerja di Jakarta saat ini sedang diuji oleh tingginya minat masyarakat untuk terjun ke dunia usaha non-formal. Hal ini dipicu oleh kebutuhan mendesak untuk tetap memiliki penghasilan di tengah ketatnya persaingan masuk ke perusahaan besar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sektor perdagangan besar dan eceran tercatat masih menjadi tulang punggung utama yang paling banyak menampung tenaga kerja di Jakarta. Dominasi sektor ini mencapai 22,40 persen dari total lapangan usaha yang tersedia bagi jutaan warga Jakarta.
Selain perdagangan, sektor penyediaan akomodasi serta makan minum juga memberikan kontribusi besar dalam menyerap angkatan kerja yang ada. Fleksibilitas di sektor-sektor inilah yang diduga kuat mendorong pertumbuhan angka pekerja informal di lingkungan masyarakat urban.
Pemerintah daerah diharapkan mampu memberikan perlindungan lebih bagi para pekerja mandiri yang kini mendominasi pasar kerja informal tersebut. Penguatan akses permodalan dan pelatihan keterampilan menjadi kunci agar pekerja informal tetap bisa produktif dan sejahtera.
Pergeseran tren ini juga menunjukkan bahwa masyarakat Jakarta memiliki daya tahan yang tinggi dalam mencari solusi ekonomi secara mandiri. Meskipun sektor formal sedang lesu, semangat untuk tetap bekerja di jalur informal menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga.
Data ketenagakerjaan ini menjadi pengingat bahwa struktur ekonomi Jakarta terus bertransformasi mengikuti kebutuhan pasar dan ketersediaan lapangan kerja. Ke depannya, keseimbangan antara sektor formal dan informal akan sangat menentukan wajah ekonomi ibu kota yang lebih inklusif.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!