Pakar ITB Ingatkan Dampak Suhu Ekstrem terhadap Kinerja Kendaraan Listrik
📅 Rabu, 29 Apr 2026, 12:36 WIB | Oleh: Yebdi Trismar
Doc: Antara Foto
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu, mengingatkan bahwa suhu panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir dapat berdampak signifikan terhadap kinerja dan umur pakai kendaraan listrik (EV).
Yannes mengatakan, suhu lingkungan di atas 35 derajat Celsius dapat mempercepat proses degradasi baterai.
“Reaksi kimia di dalam baterai berlangsung lebih cepat pada suhu tinggi, sehingga kapasitasnya lebih cepat menurun," katanya ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan bahwa kapasitas baterai yang menurun dapat menyebabkan jarak tempuh kendaraan berkurang hingga 10 sampai 30 persen, proses pengisian daya menjadi lebih lambat, serta umur pakai baterai berpotensi lebih pendek sekitar 8 sampai 30 persen.
Menurut dia, kondisi tersebut menuntut perhatian lebih dari pengguna kendaraan listrik dalam melakukan perawatan, terutama di tengah cuaca panas ekstrem.
Sebaiknya Anda baca juga:
Adapun langkah paling efektif yang dapat dilakukan antara lain mengaktifkan fitur preconditioning sebelum berkendara, memarkir kendaraan di tempat teduh atau garasi, serta menghindari paparan langsung sinar matahari dalam waktu lama.
Selain itu, pengguna juga disarankan menjaga tingkat daya baterai (state of charge/SoC) di kisaran 20 hingga 80 persen serta menghindari penggunaan pengisian cepat (fast charging) saat suhu lingkungan sedang tinggi.
Pemeriksaan rutin terhadap sistem pendingin baterai, termasuk cairan pendingin (coolant) dan sensor suhu, juga menjadi hal penting untuk menjaga performa optimal.
Terkait kebiasaan pengisian daya, Yannes menekankan pentingnya menghindari pengisian hingga 100 persen setiap hari, terutama dalam kondisi cuaca panas.
Ia juga mengingatkan agar pengguna tidak melakukan pengisian cepat DC ketika baterai masih panas setelah digunakan atau saat siang hari dengan suhu puncak.
“Pengisian daya sebaiknya dilakukan pada malam hari ketika suhu lebih rendah. Jika memungkinkan, gunakan pengisian Level 2 dan batasi fast charging hingga 80 persen saja. Ini penting untuk mencegah panas tambahan yang dapat mempercepat penuaan baterai,” ujarnya.
Lebih lanjut, Yannes menjelaskan bahwa sebagian besar kendaraan listrik modern telah dilengkapi sistem manajemen termal (thermal management system/TMS) berbasis pendingin cair (liquid cooling) yang mampu menjaga suhu baterai tetap optimal di kisaran 20 hingga 40 derajat Celsius.
Sistem ini bahkan dapat bekerja pada suhu lingkungan di atas 40 derajat Celsius dengan mengaktifkan pompa dan kipas secara otomatis. Meski demikian, ia menilai sistem tersebut bukan tanpa keterbatasan.
“Pada kondisi ekstrem, TMS tetap mengonsumsi energi tambahan yang bisa mengurangi jarak tempuh sekitar 5 sampai 10 persen. Karena itu, pengguna tetap perlu melakukan langkah perawatan tambahan,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!