Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Petani di Tailan dan Vietnam Pertimbangkan Hentikan Tanam Padi

📅 Senin, 27 Apr 2026, 02:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Petani di Tailan dan Vietnam Pertimbangkan Hentikan Tanam Padi Doc: AFP/Lillian SUWANRUMPHA
Ket. Setop Tanam Padi - Seorang petani di Provinsi Chiang Rai, Tailan, sedang memeriksa tanaman padinya jelang panen pada pertengahan Maret lalu. Usai panen, para petani di Tailan dan Vietnam mempertimbangkan untuk menghentikan menanam padi karena melambungnya biaya produksi akibat dari dampak perang di kawasan Timur Tengah.

HANOI – Usai musim panen pada awal April ini, para petani di Tailan dan Vietnam menyatakan bahwa mereka tak akan menanam padi karena biaya produksi yang melambung akibat dampak terjadinya perang di kawasan Timur Tengah.

Lazimnya dalam setahun, mereka bisa menanam padi untuk tiga kali panen karena faktor tanah yang subur. Namun semua itu berubah untuk musim tanam tahun ini.

“Kami belum menjual beras kami karena harga beli tetap sama seperti tahun 2025, sementara biaya produksi telah melambung tinggi,” ucap seorang petani Vietnam dari Provinsi An Giang di Vietnam selatan bernama Nguyen Thanh Giang, 50 tahun.

“Sebagian dari kami secara serius mempertimbangkan untuk tidak menanam padi pada musim tanam berikutnya,” imbuh dia seraya mengeluhkan kenaikan harga solar yang diikuti kenaikan harga komoditas lainnya.

Keluhan kenaikan harga ini pun disuarakan oleh para petani dan eksportir beras di Tailan yang merupakan salah satu dari tiga eksportir beras terbesar di dunia bersama Vietnam dan India. Pada tahun ini Tailan menargetkan bisa mengekspor tujuh juta ton beras ke seluruh dunia, tetapi perang di Timur Tengah telah membuat dunia kacau balau dengan gangguan pasokan, harga minyak yang tinggi, dan ketidakpastian ekonomi.

“Kami sangat khawatir,” kata Chookiat Ophaswongse, presiden kehormatan Asosiasi Eksportir Beras Tailan, kepada The Straits Times, Minggu (26/4). “Ekspor beras Tailan benar-benar terhenti sejak perang karena kapal tidak dapat berlayar melalui Selat Hormuz,” imbuh dia.

Di kawasan Timur tengah, Irak adalah importir beras terbesar Tailan yang membeli satu juta ton beras Tailan pada tahun 2025 saja.

“Petani padi tidak punya pilihan selain bertahan karena yang bisa kami lakukan hanyalah menunggu waktu yang tepat untuk menanam padi, meskipun itu berarti mengalami kerugian," ungkap petani Tailan bernama Boontham Khlaiphueak, 57 tahun.

Incar Pasar Terdekat

Karena terjadinya krisis ini, Ophaswongse berharap Tailan dapat mengekspor lebih banyak beras ke negara-negara tetangga seperti Malaysia, Indonesia, dan Filipina.

Di Vietnam, para ahli juga memperingatkan bahwa perang yang berkepanjangan akan mengganggu ekspor beras dari negara mereka.

Dampak terhadap ekspor beras Vietnam belum begitu parah, kata Do Ha Nam, presiden Asosiasi Pangan Vietnam (VFA) dan direktur jenderal Intimex Group, salah satu eksportir produk pertanian terkemuka di Vietnam. “Vietnam belum terdampak secara langsung karena struktur ekspornya masih berfokus pada pasar terdekat seperti Tiongkok dan Filipina, sehingga tekanan logistik belum terlalu besar.”

Filipina adalah pelanggan terbesar Vietnam, mengimpor sekitar 40 persen dari total ekspor beras, tetapi pasar tersebut menyusut karena banyak faktor, termasuk biaya logistik yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.

“Jika situasi ini berlanjut, dampaknya akan menjadi fundamental bagi produksi. Ketika biaya naik dan harga jual tidak seimbang, yang menyebabkan penurunan efisiensi, tidak dapat dihindari bahwa petani padi akan mempertimbangkan untuk beralih tanaman,” tutur Nam. ST/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Megapolitan
Daftar Lokasi Samsat Kelili...
Luar Negeri
Pentagon Tutup Mulut soal E...
Megapolitan
Urus SIM Tak Repot Lagi, Ad...
Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.