Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Cegah Karhutla Masyarakat Orang Rimba Jadi Garda Terdepan di Jambi

📅 Senin, 27 Apr 2026, 16:35 WIB | Oleh: Tim Penulis
Cegah Karhutla Masyarakat Orang Rimba Jadi Garda Terdepan di Jambi Doc: Antara
Ket. Kelompok orang rimba atau suku anak dalam (SAD) di Jambi mengikuti pelatihan pemadaman api bersama tim terpadu, Minggu (26/4

Kota Jambi – Sebanyak 15 anggota masyarakat adat Orang Rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) dari Kabupaten Batang Hari dan Sarolangun dilibatkan dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi.

Kepala Bidang Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jambi, Ismael, mengatakan pelibatan masyarakat adat dilakukan karena mereka hidup berdampingan langsung dengan kawasan hutan yang rentan terbakar, terutama di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim.

“Mereka dipilih karena hidup berdekatan dan bersinggungan langsung dengan lahan kehutanan yang sangat rentan terhadap kebakaran, terlebih di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin meningkatkan potensi terjadinya Karhutla,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin (27/4).

Ia menjelaskan, perubahan iklim menghadirkan kondisi ekstrem yang kontras, di mana sebagian wilayah masih menghadapi banjir akibat curah hujan tinggi, sementara potensi kebakaran hutan dan lahan mulai meningkat.

Dalam situasi tersebut, kelompok rentan seperti masyarakat adat Orang Rimba menjadi pihak yang paling terdampak. Kebakaran hutan tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga menghilangkan sumber pangan dan mata pencaharian mereka, seperti tanaman buah dan satwa buruan, serta menimbulkan risiko kesehatan.

Karena itu, pelibatan masyarakat lokal dinilai penting dalam upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla, khususnya di wilayah rawan.

Project Officer KKI Warsi, Jauharul Maknun, menyebut masyarakat Orang Rimba telah mendapatkan pelatihan dan simulasi penanganan kebakaran. Kegiatan tersebut dilakukan dengan pendampingan dari Basarnas, Manggala Agni, serta TNI-Polri.

Simulasi juga mencakup skenario penanganan darurat apabila terjadi kecelakaan atau cedera di lapangan, sehingga peserta tidak hanya memahami teknik pemadaman, tetapi juga prosedur keselamatan.

Menurut Jauharul, meski Orang Rimba memiliki kearifan lokal dalam mengelola hutan, kondisi lahan yang semakin rentan terbakar menuntut adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang lebih relevan dengan situasi saat ini.

Ia menambahkan, kebakaran sering kali berasal dari luar wilayah dan kemudian merambat masuk ke area jelajah masyarakat adat, sehingga meningkatkan risiko bagi kehidupan mereka yang bergantung penuh pada hutan.

Oleh karena itu, pelatihan ini dinilai sangat penting, tidak hanya untuk menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga untuk melindungi hak dan keberlangsungan hidup masyarakat adat.

Selain itu, masyarakat Orang Rimba juga dibekali kemampuan deteksi dini titik api serta mekanisme pelaporan kepada pihak berwenang. Hal ini penting mengingat mereka merupakan pihak pertama yang berada di lapangan dan dapat merespons lebih cepat sebelum api meluas, terutama di kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh dan Bukit Duabelas.

“Selain kemampuan teknis di lapangan, masyarakat adat Orang Rimba juga dilatih mengenai alur pelaporan kepada pihak berwenang,” ujar Jauharul.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
Badan Geologi Laporkan Akti...
Daerah
Surabaya Siapkan Sensor Pem...
Advertisement
Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.