Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tanpa Kebijakan dan Kesiapan Struktural Tepat, RI Bisa Gagal Manfaatkan Bonus Demografi

📅 Kamis, 23 Apr 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Tanpa Kebijakan dan Kesiapan Struktural Tepat, RI Bisa Gagal Manfaatkan Bonus Demografi Doc: istimewa
Ket. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy sebelumnya mengatakan kecepatan pertumbuhan populasi Indonesia berada di atas rata-rata dunia.

JAKARTA - Pertambahan jumlah penduduk Indonesia yang melampaui laju pertumbuhan populasi dunia harus menjadi alarm dini, karena pertambahan penduduk satu negara seharusnya diikuti dengan peningkatan produktivitas, sehingga menjadi bonus demografi yang bisa mendorong kemajuan bangsa.

Sebaliknya, bonus demografi yang melimpah jika gagal dimaksimalkan atau dikelola dengan baik, justru akan menjadi beban bagi negara, terutama untuk memenuhi berbagai kebutuhan mulai dari pangan, energi dan kebutuhan akan tempat tinggal yang layak.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy sebelumnya mengatakan kecepatan pertumbuhan populasi Indonesia berada di atas rata-rata dunia.

“Sekarang penduduk dunia sudah di atas 8 miliar, dan penduduk Indonesia sudah di atas 280 juta jiwa. Kalau mengikuti tren peningkatan penduduk dunia, seharusnya kita ini hanya 240 juta saja. Berarti kecepatan pertumbuhan populasi kita di atas rata-rata dunia. Nah, kalau di atas rata-rata dunia maka kita pun harus hati-hati,” ungkap Rachmat.

Menanggapi hal itu, Direktur Suara Nusa Institut, Iranda Yudhatama, menilai Indonesia berisiko tidak memperoleh manfaat dari bonus demografi apabila tidak diikuti dengan kebijakan yang tepat dan kesiapan struktural yang memadai. Ia menegaskan bahwa bonus demografi bukan kondisi yang otomatis menjadi keuntungan, melainkan peluang yang sangat bergantung pada kualitas pengelolaan sumber daya manusia dan arah pembangunan ekonomi.

Menurut Iranda, salah satu indikator yang perlu menjadi perhatian adalah kecenderungan meningkatnya rasio penduduk nonproduktif. Kondisi ini, kata dia, menunjukkan bahwa beban kebergantungan terhadap kelompok usia produktif berpotensi semakin besar jika tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas tenaga kerja dan penciptaan lapangan kerja yang memadai.

“Bonus demografi sering dipahami sebagai situasi yang pasti menguntungkan, padahal tidak demikian. Tanpa intervensi yang serius di sektor pendidikan, kesehatan, dan ketenagakerjaan, struktur demografi justru bisa menjadi beban baru bagi perekonomian,” kata Iranda.

Tantangan utamanya jelas Iranda bukan hanya pada jumlah penduduk usia produktif, tetapi pada kemampuan sistem untuk menyerap dan memberdayakan mereka secara optimal. Jika pasar kerja tidak mampu menampung atau kualitas tenaga kerja tidak sesuai dengan kebutuhan industri, maka potensi bonus demografi akan hilang dan berubah menjadi tekanan sosial-ekonomi.

Pemerintah tambah Iranda perlu memastikan adanya kesinambungan antara kebijakan pendidikan, pelatihan vokasi, dan kebutuhan riil dunia usaha. Tanpa langkah tersebut, peningkatan jumlah penduduk usia produktif tidak akan berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, bahkan berpotensi memperbesar angka pengangguran dan ketimpangan.

Pekerjaan Formal Sulit

Sementara itu, pemerhati masalah kemiskinan Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi menegaskan bonus demografi tanpa produktivitas malah bisa menjadi bom waktu.

Kekhawatiran akan meningkatnya penduduk nonproduktif itu terangnya beralasan karena sulitnya akses pekerjaan formal dan masalah sumber daya manusia (SDM). Soal kependudukan, pengendaliannya ada di kualitas SDM dan kesempatan ekonomi. Kelas menengah atas relatif memiliki kesadaran perencanaan keluarga, jumlah anak akan dibarengi dengan rencana dan capaian ekonominya.

Semakin mereka terlibat lebih dalam di dunia kerja dan mobilitas tinggi, akan cenderung memilih keluarga kecil dengan 1-2 anak saja, bahkan bisa jadi mulai muncul fenomena free child sebagai gaya hidup anak muda. Sementara di kelas bawah, minimnya literasi tentang program keluarga berencana menjadikannya sering punya banyak anak, bahkan kejadian di luar rencana, atau biasa disebut “kebobolan”.

Risikonya keluarga menengah bawah dengan banyak anak lebih berisiko mewariskan kemiskinan lintas generasi ketimbang mereka dengan anak yang lebih sedikit. Daya dukung sosial ekonomi serta psikologis dalam merawat dan mengelola tumbuh kembang pun menjadi tantangan serius.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
119 Orang Diamankan saat Ri...
Megapolitan
Hasil Penataan Jalan Rasuna...
  • Pemkot Bandung Bongkar 174 Bangunan Liar di Jalan Terusan Pasirkoja
    Preview komentar:
    Parkir liar gimana nihhh dijalan kebon jati,, itu ...
  • Malasyia Mencak-mencak Kebakaran Jenggot Dimasukkan ke Dalam Kelas Dua Sepak Bola Asean
    Preview komentar:
    Jiran kita kejet-kejet tanpa bisa berbuat apa2
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
Jakarta Fair 2026 Banjir Diskon Helm hingga 50 Persen, Ini Daftar Merek dan Promonya

Jakarta Fair 2026 Banjir Diskon Helm hingga 50 Persen, Ini Daftar Merek dan Promonya

18 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.