Roy Genggam Segera Terbitkan Buku 'Memotret Pemotret II'
📅 Selasa, 21 Apr 2026, 08:26 WIB | Oleh: Diapari SJAKARTA -- Roy Genggam Nusantoro, salah satu fotografer profesional andal, tengah mempersiapkan penerbitan tiga buah bukunya. Harapan terbesarnya, satu di antara ketiga buku tersebut, bisa terbit secepatnya. "Semoga akhir tahun ini, terutama yang materinya sudah terkumpul," ungkap Roy, Senin (20/4) di studionya di kawasan Cirendeu, Jaksel.
Ketiga buku tersebut, tentang kehidupan gajah-gajah di Way Kambas, Lampung. Lalu, seri atau edisi kedua dari 'Memotret Pemotret'. Ketiga, buku foto berpuisi, puisi berfoto.
"Buku tentang gajah-gajah Way Kambas sudah ada alternatif judulnya, yakni Gajah Seto. Saya sering berkunjung ke Way Kambas, nyupir sendiri ke sana, nginep di rumah penduduk," papar Roy, alumni SMAN IX Bulungan tahun 1980.
Dari beberapa kali kunjungan ke Way Kambas itu, kata Roy, ada sekitar 5000 foto yang dihasilkan. Dari keseluruhan foto tersebut, Oscar Matuloh 'menyuntingnya' hingga sekitar 200 foto.
Kata Roy, sekadar membuat buku mungkin mudah. Tetapi, dia tak mau sekadarnya. "Bikin buku tetap harus pakai rasa. Oleh karena itu juga opsi judul buku berubah-ubah. Buku tentang gajah-gajah Way Kambas semula saya kasih judul Gajah Matahari Mahout. Mahout adalah sebutan pawang gajah di seluruh dunia," jelas Roy.
Sebaiknya Anda baca juga:

Tentang buku foto berpuisi, atau puisi berfoto, isinya adalah rangkaian puisi dan foto. "Puisi dulu baru foto, atau sebaliknya, haha. Sekarang lagi rajin menulis puisi, apa pun yang tersirat langsung saya tulis di notes," kata Roy.
Buku mana yang akan lebih dulu terbit? 'Memotret Pemotret--Seniman Foto Indonesia', 'Gajah Seto', atau 'Foto Berpuisi, Puisi Berfoto'?
"Hahaha, belum tahu. Lihat mood-nya saja, yang jelas materinya sudah ada," ujar alumni sinematografi IKJ 1983 itu.
Di samping menciptakan sejumlah karya fotografi fenomenal dan menjadi rujukan, Roy sudah melahirkan buku 'Memotret Pemotret--Maestro Fotografi Indonesia', tahun 2015. Buku ini berisi potret dari 23 fotografer dalam wujud hitam-putih, dari Don Hasman, Darwis Triadi hingga Yudhi Soejoatmodjo, Oscar Matuloh dan Arbain Rambey.
'Memotret Pemotret--Maestro Fotogragi Indonesia' sebagai bentuk apresiasinya kepada para pemotret senior. Sekaligus menjadi bagian dari proses pembelajaran kepada para pemotret muda atau yunior. Buku yang penerbitannya didukung oleh Nixon Team ini menjadi spirit idealisme Roy, bukan pencarian profit.
"Semua diambil fotonya di sini," kata Roy, menunjukkan Genggam Studio yang berukuran 8,5 x 15 meter, dengan tinggi studio sekitar tujuh meter.
"Mungkin pada awalnya ini salah satu studio fotografer profesional individu atau perorangan terbaik. Teman-teman fotografer lebih senang diambil fotonya di sini," cerita Roy, fotografer majalah ASRI (1984-1986) dan majalah LARAS (1987-1988).
Pada 1989, Roy memutuskan menjadi freelance fotografer, dan pada 1990 mendirikan studio kecil Genggal Photography, cikal bakal dari Genggam Studio. Roy membesarkan Genggam Studio di atas lahan seluas 600 meter di kawasan Cirendeu, Jaksel. Genggam Studio bekerja sama dengan banyak biro advertising dan graphic design. Di antara klien tetapnya, Yamaha dan Ajinomoto.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!