Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kemenko Perekonomian: Kelas Menengah Jadi Andalan Pertumbuhan Ekonomi di tengah Tekanan Global

📅 Kamis, 16 Apr 2026, 19:00 WIB | Oleh:
Kemenko Perekonomian: Kelas Menengah Jadi Andalan Pertumbuhan Ekonomi di tengah Tekanan Global Doc: Dokumentasi Kemenko Perekonomian
Ket. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso

JAKARTA - Masyarakat kelas menengah berperan strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi domestik di tengah masih tingginya tekanan global. Ini dilakukan melalui aktivitas ekonomi dan konsumsi domestik yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Kalau dilihat dari share-nya terhadap ekonomi kita, betapa pentingnya peran kelas menengah di Indonesia terutama pada perbelanjaan dan konsumsi rumah tangga," kata Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, Kamis (16/4).

Menurut Susiwijono, saat ini kontribusi konsumsi rumah tangga pada Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai sekitar 54-55 persen. Hal ini, lanjut dia, membuat ekonomi Indonesia sampai saat ini mampu bertahan di tengah dinamika global.

Susiwijono mengakui konflik geopolitik memang memengaruhi sektor energi dan logistik, serta berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dunia. "Namun, struktur ekonomi Indonesia relatif lebih resilien karena tidak terlalu bergantung pada perdagangan luar negeri," ucap dia.

Menurut Susiwijono, kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah saat ini sekitar 66,35 persen dari total 185,35 juta penduduk Indonesia. Merekalah yang menjadi penopang utama konsumsi rumah tangga dan daya beli nasional.

Namun yang patut dicermati adalah pergeseran proporsi kelas menengah ke kelompok menuju kelas menengah. "Ini mengindikasikan tekanan terhadap daya beli, terutama di wilayah perkotaan yang menjadi domisili mayoritas kelas menengah," ujar dia.

Kelas menengah juga mengalami perubahan karakteristik, antara lain dengan pergeseran lapangan pekerjaan yang semakin didominasi sektor jasa. Selain itu, ada kecenderungan menurunnya proporsi pekerja formal.

Pola konsumsi kelompok tersebut lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan nonmakanan seperti perumahan, transportasi, dan gaya hidup. "Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah dalam perumusan kebijakan ke depan," kata Susiwijono menegaskan.

Sesmenko juga menyinggung soal fenomena Chilean Paradox, di mana pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu menjamin pemerataan kesejahteraan. Ini menjadi pengingat bagi pemerintah agar kebijakan ekonomi yang dibuat berpihak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kebijakan tersebut diwujudkan dalam berbagai program yang menyasar seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelas menengah. Misalnya bantuan sosial bagi kelompok rentan.

Sedangkan untuk masyarakat kelas menengah diberikan berbagai stimulus seperti insentif perpajakan serta dukungan sektor perumahan melalui FLPP. Termasuk pula insentif otomotif dan subsidi energi yang ditujukan untuk menjaga daya beli dan aktivitas ekonomi kelompok menengah. ils/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar

Belajar merangkai kain batik di Semarang

41 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Ekonomi
Digitalisasi ekonomi melalu...
Daerah
DPRD DKI: Digitalisasi Park...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.