Meski Resilien, Ruang Fiskal APBN Mulai Hadapi Tekanan
📅 Senin, 13 Apr 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiPemerintah juga memiliki bantalan fiskal yang cukup, termasuk Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang dapat digunakan dalam kondisi mendesak.
“Kalau kepepet, saya punya SAL. Sekarang naik 420 triliun rupiah. Bakal kepakai kalau kepepet banget,” katanya.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) Dipo Satria Ramli,mengatakan jika harga minyak dunia mencapai 105 dollar AS per barel dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berada di level Rp17 ribu, maka defisit APBN bisa mencapai 3,6 persen atau melampaui angka maksimal sebesar 3 persen.
“Kita apresiasi pemerintah tidak menaikkan harga BBM subsidi. Tapi kan secara ekonomi, dia pindah dari beban APBN ke neraca Pertamina. Neraca Pertamina kita belum lihat data terakhir bulanan, tapi saya rasa mereka menghadapi banyak tantangan,” kata Dipo.
Sebaiknya Anda baca juga:
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro mengatakan, bukan masalah subsidinya saja, tetapi soal keberlanjutan pengadaannya yang perlu diantisipasi. Kalau subsidi nanti bisa diselesaikan dengan mekanisme kompensasi, tetapi yang jauh lebih mengkhawatirkan di dalam konteks ketahanan itu adalah Pertamina mampu tidak mengadakan di hari-hari ke depan atau bulan berikutnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!