Harga Pangan Dunia Naik, FAO Sebut Efek Biaya Energi Meroket
📅 Jumat, 03 Apr 2026, 22:40 WIB | Oleh: Tim PenulisISTANBUL – Kenaikan harga pangan global belakangan ini bukan sekadar fluktuasi biasa, tapi hasil dari kombinasi banyak faktor yang saling terkait. Mulai dari gangguan rantai pasok, perubahan cuaca ekstrem, sampai tensi geopolitik yang bikin distribusi komoditas jadi nggak lancar.
Di satu sisi, biaya produksi ikut terdorong naik—pupuk, energi, hingga logistik semuanya mengalami tekanan. Di sisi lain, pasokan dari beberapa negara produsen utama juga terganggu, baik karena kebijakan pembatasan ekspor maupun kondisi alam. Ketika suplai tertekan dan permintaan tetap tinggi, harga pun sulit turun.
Dampaknya terasa luas. Negara-negara importir jadi harus merogoh kocek lebih dalam, sementara tekanan inflasi pangan ikut meningkat. Buat masyarakat, ini berarti harga bahan pokok di tingkat konsumen ikut terdorong naik, meskipun tidak selalu secara langsung dan seragam di setiap negara.
Dalam situasi seperti ini, strategi mitigasi jadi penting. Diversifikasi sumber impor, penguatan produksi dalam negeri, hingga efisiensi distribusi jadi kunci untuk meredam dampak. Intinya, kenaikan harga pangan global ini bukan fenomena sesaat, tapi sinyal bahwa sistem pangan dunia sedang menghadapi tantangan yang perlu direspons dengan lebih adaptif.
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), Jumat (3/4), mengatakan harga pangan global naik 2,4 persen pada Maret dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan itu didorong oleh melonjaknya biaya energi akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kenaikan tersebut menandai peningkatan bulanan kedua berturut-turut, dengan harga naik terjadi di semua kelompok komoditas utama, termasuk sereal, daging, produk susu, minyak nabati, dan gula.
Indeks Harga Pangan FAO tercatat naik 1,2 poin, atau satu persen, dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, Indeks Harga Sereal naik 1,5 persen menjadi 110,4 secara bulanan dan meningkat 0,6 persen secara tahunan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lalu, indeks Harga Minyak Nabati rata-rata mencapai 183,1 poin pada Maret, atau naik 5,1 persen dari Februari dan mencatat kenaikan bulanan ketiga berturut-turut, dengan kenaikan tahunan sebesar 13,2 persen.
“Harga minyak sawit internasional mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022 dan bergerak ke level premium di atas harga minyak kedelai. Ini utamanya mencerminkan efek limpahan dari lonjakan tajam harga minyak mentah,” kata FAO.
Tak hanya itu, Indeks Harga Daging rata-rata mencapai 127,7 poin atau naik satu persen dibandingkan Februari dan delapan persen lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Indeks Harga Produk Susu naik 1,2 persen secara bulanan menjadi 120,9 poin, namun masih 18,7 persen lebih rendah dibandingkan Maret 2025.
Lebih lanjut, FAO mengatakan kenaikan ini terutama didorong oleh harga minyak mentah yang lebih tinggi, yang meningkatkan ekspektasi bahwa Brasil—eksportir gula terbesar dunia—akan mengalokasikan lebih banyak tebu untuk produksi etanol.
“Tekanan tambahan pada harga gula juga berasal dari kekhawatiran atas dampak eskalasi konflik di Timur Tengah terhadap arus perdagangan gula,” tambah FAO.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!