Siap Darling Menjadi Gantungan Utama Menyelamatkan Bumi
📅 Minggu, 29 Mar 2026, 19:01 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: aloysius widiyatmaka
JAKARTA – Sastrawan (mendiang) Rendra, dalam bukunya, Mempertimbangkan Tradisi, menulis, “Perjalanan ke alam adalah perjalanan percintaan.” Maksud Rendra dengan mengagumi alam akan sampai kepada kekaguman kepada Pencipta Alam. Sayang kini alam rusak, sehingga mungkin tidak lagi mudah menemukan "perjalan percintaan dalam perjalanan ke alam." Manusia hidup dari dan di dalam alam, tapi merusaknya. Telah sekian miliar tahun, alam memberi hidup. Kini dia telah semakin renta. Memang berapa umur alam, utamanya Bumi?
Melalui penanggalan radiometrik pada bebatuan tertua di Bumi, Bulan, dan Meteorit yang terbentuk pada awal tata surya, umur Bumi mungkin 4,54 miliar tahun. Penanggalan radiometrik adalah metode ilmiah untuk menentukan usia absolut batuan, fosil, atau artefak dengan mengukur rasio isotop radioaktif dan produk peluruhannya. Teknik ini untuk menghitung usia bahan, yang banyak digunakan dalam dunia geokronologi dan arkeologi.
Wajar bila Bumi dikatakan sudah tua. Untuk itu, harus terus dirawat agar tetap bisa menjadi “Rumah Kita Bersama.” Itulah pesan dari Laudato Si’, ensiklik Paus Fransiskus. Ensiklik adalah surat pastoral (kegembalaan) resmi yang dikeluarkan oleh para Paus untuk para uskup dan umat seluruh dunia. Dokumen ini berisi ajaran, panduan moral, doktrin, atau pandangan Gereja mengenai isu-isu penting kontemporer.
Paus melalui suratnya tersebut mendorong seluruh manusia di Bumi ambil bagian dalam merawat Bumi yang sedang menderita karena berbagai krisis, utamanya krisis ekologis (maka nanti Paus menyerukan Pertobatan Ekologis). Di sinilah pentingnya misi Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), bukan hanya seakan menjawab pesan Paus Fransiskus, tetapi karena telah menginisiasi untuk merawat Bumi.
Ini terutama juga dengan meluncurkan gerakan “Siap Darling” alias “Siap Sadar Lingkungan,” sebuah Community Movement. Gerakan ini diluncurkan BLDF melalui sosial media sejak November 2018. Jelas ini perlu diapresiasi karena membidik anak-anak muda untuk berbela rasa kepada Bumi yang terus digunduli, didestruksi, dan dilucuti oleh kaum serakah. Pemilihan anak muda untuk diajak melestarikan Bumi adalah pemikiran jitu. Sebab di tangan merekalah ke depan segala sesuatu bergantung. Kaum muda akan menentukan perjalanan apa pun seperti politik, hukum, dan tentunya lingkungan (hidup). Adalah anak-anak gen-Z (genzi) sekarang yang akan memegang kendali seluruh kehidupan dalam beberapa dekade mendatang, dan andai dari sekarang mereka mulai merawat bumi, beberapa puluh warsa lagi, Bumi semakin baik untuk ditinggali.
Sebaiknya Anda baca juga:
Melalui konten-konten positif tentang kegiatan mencintai lingkungan dan Bumi yang mereka share diharapkan akan menginspirasi sesama generasi muda untuk bertindak dan berlaku sama: menanam pohon dan memelihara pohon. Ini adalah aksi nyata di lapangan, meski juga ada kegiatan lain dalam event-event dengan inti sama untuk memberi contoh aksi nyata mencintai lingkungan. Maka, pertanyaan dalam moto Siap Darling, "Aku Siap Sadar Lingkungan, Kalian Juga Kan?" akan menggugah anak-anak genzi untuk juga terlibat dalam aksi-aksi serupa.
Tobat Ekologis
Inti ensiklik Laudato Si' (2015) adalah seruan dan desakan, untuk tidak menunda lagi guna merawat Bumi sebagai "rumah kita bersama" yang sedang menderita krisis ekologis. Paus menekankan bahwa kerusakan lingkungan, kemiskinan, dan krisis sosial saling berkaitan, sehingga menuntut pertobatan ekologis dan aksi global yang terpadu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Memang telah terjadi krisis yang saling berkaitan di mana kerusakan lingkungan (pemanasan global dan pencemaran) dan krisis sosial (kelaparan, ketimpangan) menjadi satu krisis kompleks yang menuntut solusi komprehensif, bukan parsial. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah ajakan agar semua orang mengubah gaya hidup konsumtif menjadi peduli terhadap sesama (terutama kaum miskin), dan merawat ciptaan, termasuk Bumi, sebagai bentuk pengejawantahan konkret iman.
Dengan demikain sebagai orang beriman (orang Indonesia sering mengeklaim diri orang beriman, tapi sebenarnya mungkin hanya orang beragama, bukan beriman. Orang beragama belum tentu beriman), maka menjadi tanggung jawab moral bersama untuk menjaga dan merawat Bumi dengan bertobat secara ekologis.
Bertobat adalah berbalik 180 derajad (dari tindakan sebelumnya), dari mengeksploitasi dan mendestruksi, menjadi merawat dan mencintai Bumi. Inilah misi yang mau dicapai BLDF melalui contoh-contoh yang diberikan lewat kerja-kerja anak-anak genzi. Siap Darling diharapkan menjadi motor inisiator agar anak-anak genzi menanam pohon dan memilah sampah.

Mari berdamai dengan hutan, jangan lagi menjadi perusak, tapi mencintai
Hanya di tangan anak-anak muda Bumi Indonesia akan dapat diselamatkan. Kerja-kerja anak genzi sangat mendesak karena kerusakan, deforestasi hutan-hutan Indonesia sungguh sudah di luar “nurul.” Lihat saja catatan dari “Forest Watch Indonesia” tentang deforestasi hutan Indonesia berikut:
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!