Merawat Kopi Tua Semarang untuk Menjaga Tradisi
📅 Sabtu, 21 Mar 2026, 07:55 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka“Kami masih pakai cara manual. Hasilnya tidak kalah, tapi sekarang lebih berbasis ilmu,” ujar Dharma. Ia menambahkan, pihaknya tidak mengutamakan harga murah, melainkan kualitas produk yang dihasilkan. “Kami tidak menjual murah, tapi juga tidak menaikkan harga semaunya. Harga sesuai kualitas,” katanya.
Pengalaman berkunjung ke lokasi boutique kopi ini juga menawarkan sensasi tersendiri. Area duduk didominasi ruang terbuka dengan halaman berpaving yang dikelilingi tanaman hijau dan pepohonan rindang, menciptakan suasana teduh dan nyaman. Bangunan yang masih mempertahankan arsitektur lama dengan jendela klasik dan atap genteng turut memperkuat kesan historis yang menyatu dengan aktivitas modern.
Pengunjung dapat duduk di meja dan kursi kayu sederhana sambil menikmati suasana yang tenang, jauh dari kesan kafe modern yang serba ramai.
Di lokasi tersebut, tersedia sekitar 50 jenis biji kopi dari berbagai daerah di Indonesia yang tersusun rapi. Sebelum membeli, pengunjung diperbolehkan mencium aroma biji kopi secara langsung untuk mengenali karakter masing-masing varian.
Sebaiknya Anda baca juga:
Para barista juga aktif memberikan penjelasan mengenai asal-usul, proses pengolahan, hingga cita rasa kopi, sehingga proses pembelian menjadi lebih informatif.
Pendekatan tersebut menjadikan kunjungan tidak hanya sebagai aktivitas membeli kopi, tetapi juga pengalaman edukatif bagi penikmat kopi. “Kami hanya mengenalkan. Soal tertarik atau tidak, itu kembali ke masing-masing,” ujar Dharma.
Ia menyebut edukasi menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman terhadap kopi, baik bagi pekerja maupun pengunjung.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Awalnya tidak tahu, tapi belajar dari pengalaman. Sekarang mereka (barista) malah lebih pintar dari saya,” kata Dharma.
Dharma juga mengungkapkan bahwa meningkatnya minat masyarakat terhadap kopi turut dipengaruhi oleh budaya populer, seperti film “Filosofi Kopi” yang memperluas ketertarikan publik.
Setiap hari, ia bersama timnya melakukan uji rasa dan pencampuran untuk menjaga konsistensi kualitas produk.
“Kami selalu mencoba kopi yang kami jual dan melakukan blending,” ujarnya. Ia memandang kopi sebagai bentuk seni yang tidak memiliki standar tunggal dalam penilaian rasa.
“Kopi itu seni yang tidak ada habisnya. Tidak ada yang paling enak karena setiap orang punya selera sendiri,” kata Dharma.
Saat ini, produksi Dharma Boutique Roastery masih dalam skala kecil dengan kapasitas harian yang belum mencapai satu kuintal. Dharma mengatakan usahanya pernah melakukan ekspor, tapi terhenti akibat krisis ekonomi global dan perang dunia. “Kami masih kecil,” ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!