Memasuki Usia Tahun Kedua, Banyak Anak Banjarmasin Mengalami Stunting
📅 Jumat, 06 Mar 2026, 04:15 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
BANJARMASIN – Ada kasus unik di Banjarmasin di mana anak-anak memasuki usia tahun kedua banyak mengalami stunting. Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kalimantan Selatan menyebut kasus stunting di daerah itu lebih banyak muncul setelah anak berusia satu tahun.
“Pola tersebut berbeda dengan beberapa wilayah lain di Indonesia yang umumnya mengalami stunting sejak masa kelahiran,” kata Kepala Perwakilan BKKBN Kalsel Farah Adibah saat Rakorda Bangga Kencana 2026 di Banjarmasin, Kamis.
Ia menjelaskan sebagian besar anak di Kalimantan Selatan lahir dalam kondisi normal, namun risiko stunting meningkat setelah memasuki usia di atas satu tahun ketika anak mulai mengonsumsi makanan keluarga serta lebih aktif bergerak.
“Dari angka prevalensi stunting yang masih berada di kisaran dua puluh persen lebih di provinsi tersebut, proporsi anak yang lahir dalam kondisi stunting relatif kecil, bahkan diperkirakan kurang dari lima persen,” ujarnya.
Ia menilai persoalan utama yang mempengaruhi kondisi tersebut bukan semata keterbatasan ekonomi keluarga, melainkan faktor sanitasi lingkungan, kebersihan air minum, serta kualitas pola makan anak setelah memasuki masa pertumbuhan yang lebih aktif.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena itu, BKKBN memperkuat berbagai intervensi berbasis keluarga melalui pendekatan sensitif, termasuk edukasi gizi, penguatan peran keluarga, serta pemantauan tumbuh kembang anak melalui kader dan penyuluh keluarga berencana di tingkat masyarakat.
Farah mengatakan, pemantauan tersebut didukung pendataan keluarga yang selama ini dilakukan oleh kader dan petugas lapangan, sehingga pemerintah dapat mengidentifikasi keluarga berisiko stunting secara lebih akurat hingga tingkat rukun tetangga.
Selain itu, BKKBN juga menjalankan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) yang mendorong partisipasi masyarakat dalam memberikan bantuan pangan bergizi kepada keluarga prasejahtera yang memiliki anak balita berisiko stunting.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Partisipasi masyarakat di Kalimantan Selatan cukup tinggi dalam mendukung gerakan tersebut sehingga diharapkan berbagai intervensi berbasis keluarga dapat mempercepat penurunan stunting sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan anak sejak usia dini,” ujar Farah Adibah.
Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Kondisi ini ditandai dengan tinggi atau panjang badan anak yang berada di bawah standar sesuai acuan dari Kementerian Kesehatan. Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes), anak balita dikategorikan stunting jika memiliki nilai z-score kurang dari -2,0 standar deviasi (SD) dan dikategorikan sangat stunting jika kurang dari -3,0 SD.
Stunting memberikan dampak serius pada anak, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dampak Jangka Pendek, pertumbuhan fisik terganggu, sehingga tinggi badan anak berada di bawah rata-rata usianya. Juga perkembangan kognitif terhambat akibat gangguan perkembangan otak, yang dapat menurunkan tingkat kecerdasan anak.
Beberapa faktor utama yang menyebabkan stunting antara lain, pola asuh yang kurang baik, pola makan yang tidak memenuhi kebutuhan gizi seimbang, kurangnya akses terhadap air bersih, dan infeksi berulang yang tidak tertangani dengan baik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!