Inklusi Keuangan dari Praktik Pelaksanaan Bank Sampah Palangka Raya
📅 Rabu, 04 Mar 2026, 01:12 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
PALANGKA RAYA – Program inklusi keuangan yang inovatif dapat dilahirkan dari praktik pelaksanaan bank sampah seperti dilakukan Kota Palangka Raya, Kalteng. Paling tidak begitulah pendapat Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Saat ini telah terbentuk dua bank sampah dengan total sebanyak 601 nasabah sejak awal pendirian tahun 2020 hingga 2025," kata Kepala OJK Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, saat dihubungi dari Palangka Raya, Selasa. Bank Sampah tersebut merupakan program inklusi keuangan yang pertama kalinya terbentuk di Kalimantan Tengah, dengan memanfaatkan limbah menjadi tabungan emas.
"Melalui Program Bank Sampah ini juga kami harap dapat mengurangi sampah di Kota Palangka Raya," ujar Primandanu. Program Bank Sampah Palangka Raya merupakan inisiasi dari Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), merupakan kolaborasi Pemerintah Kota Palangka Raya bersama pihak terkait lainnya.
Sekda Palangka Raya Arbert Tombak menyatakan kolaborasi program pengelolaan sampah dengan layanan keuangan melalui integrasi bank sampah dan tabungan emas tersebut menjadi upaya mendorong pelestarian lingkungan sekaligus memperluas inklusi keuangan masyarakat.
"Program ini memberikan kesempatan kepada para penggiat sampah, pemulung serta pengelola bank sampah menabung hasil pengelolaan sampah dalam bentuk tabungan emas yang aman dan berkelanjutan," ujar dia. Melalui program itu, maka hasil pengelolaan sampah tidak hanya memberikan manfaat ekonomi jangka pendek, tetapi juga menjadi instrumen tabungan jangka panjang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurutnya, selain mendorong pengurangan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, program itu juga menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan berbasis partisipasi warga. Untuk memperkuat manfaat ekonomi, Arbert mengatakan Pemkot Palangka Raya mendorong keterlibatan perangkat daerah terkait agar dapat memberikan subsidi terhadap setiap kilogram sampah yang disetorkan melalui bank sampah.
Botol Tukar Voucher Makan
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) "menghijaukan" bulan puasa lewat program penukaran botol plastik dengan voucher makan untuk berbuka puasa. "Program Ramadan Berkah kami lakukan dalam mendukung semangat Program Asri pemerintah," kata Kepala BI Perwakilan Sulut Joko Supratikto di Manado.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia mengatakan Bank Indonesia Sulut menginisiasi program hijau di bulan puasa, sehingga masyarakat benar-benar peduli akan lingkungan. "Melalui program ini, masyarakat cukup menukarkan lima botol plastik bekas dengan voucher makan yang dapat digunakan di berbagai tenant UMKM," kata Joko.
Menurut Joko, melalui program itu BI menargetkan 4.000 botol plastik dapat terkumpul. Setelah botol-botol itu terkumpul, BI bekerja sama dengan Wirausaha Unggulan Sulawesi Utara (Wanua) yaitu Bank Sampah Induk Likupang, untuk diolah menjadi produk home decor yang bernilai jual.
"Dengan langkah sederhana ini, kita tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga menggerakkan UMKM dan menghadirkan keberkahan ekonomi di bulan puasa," katanya. Masyarakat bisa langsung datang menukar lima botol plastik di Kawasan Megamas Manado hingga 15 Maret.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!