IHSG Berdarah, Saham RI Anjlok 4,5 Persen Akibat Perang Timur Tengah dan Fitch Ratings
📅 Rabu, 04 Mar 2026, 16:58 WIB | Oleh: Alfred
Doc: ANTARA/Asprilla Dwi Adha
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup merosot tajam pada perdagangan Rabu (4/3).
Sentimen "badai sempurna" yang mengombinasikan eskalasi konflik di Timur Tengah dengan keputusan Fitch Ratings merevisi outlook kredit Indonesia menjadi negatif, memicu aksi jual masif oleh investor asing.
IHSG ditutup melemah 362,70 poin atau 4,57 persen ke posisi 7.577,06. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 33,14 poin atau 4,11 persen ke posisi 772,44, seiring kekhawatiran global terhadap pasokan energi dunia dan stabilitas fiskal domestik yang mulai goyah.
“Kombinasi eskalasi geopolitik Timur Tengah dan pemangkasan outlook kredit Indonesia oleh Fitch Ratings menjadi negatif," ujar Head of Research PT Korea Investment And Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings merevisi outlook atau prospek peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, namun tetap mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB atau layak investasi (investment grade).
Sebaiknya Anda baca juga:
Fitch menilai sentralisasi pengambilan kebijakan yang semakin kuat berpotensi mempengaruhi prospek fiskal jangka menengah, sentimen investor, serta ketahanan eksternal Indonesia.
"Asing capital outflow. Pendorong utamanya adalah sentimen risk-off global dan hilangnya kepercayaan pada stabilitas fiskal domestik," ujar Wafi.
Merespons revisi outlook kredit oleh Fitch Ratings, Wafi menilai pemangkasan tersebut memperparah sentimen negatif pasca peringatan S&P Global Ratings kepada Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Dampaknya adalah lonjakan biaya dana negara, pelemahan nilai tukar rupiah, dan aksi jual agresif investor asing pada sektor perbankan big caps," ujar Wafi.
Di sisi lain, bursa saham kawasan Asia kompak anjlok seiring kekhawatiran terjadinya gangguan pada rantai pasok global, utamanya terkait dengan minyak imbas dari penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Lonjakan harga minyak berpotensi mendorong inflasi global, yang pada akhirnya memaksa bank sentral dunia untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat secara lebih lama.
Dalam situasi saat ini, para investor mengalihkan dana ke aset safe haven, seperti emas hingga dolar AS, sehingga meninggalkan pasar saham emerging markets.
Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor terkoreksi dimana sektor barang baku turun paling dalam sebesar 7,39 persen, diikuti sektor transportasi & logistik dan sektor barang konsumen non primer yang masing-masing turun 7,08 persen dan 6,35 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (3)
29 Mar 2026, 22:50 WIB.
Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam
Balas29 Mar 2026, 22:51 WIB.
Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam
Balas29 Mar 2026, 22:53 WIB.
Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam
BalasSilakan login via Google untuk dapat memberi komentar!